10 April 2011

Kajian Media dan Budaya (Studi Arsitektur Postmodern Urban)

HI, guys, ini adalah materi papers dari kelas Media dan Budaya Salemba school 08, semoga berguna, walo masih berbentuk resume singkat, kapan kapan semoga bisa di analisa lebih dalam dengan case yang berbeda. Cheerrss!!!

 saya : Sibuk Chat. Mba Ade : serius dan fokus :))

Kajian Budaya Postmodernisme
Kajian Arsitektur Urban

Pemahaman Terhadap Postmodernisme
Masyarakat postmodernitas ditandai dengan adanya superfisialitas dan kedangkalan, kepura-puraan, kelesuan emosi, hilangnya historisitas yang didasari oleh sistem kapitalis multinasional. Beragam konsep yang kemudian muncul dalam dunia Post modern salah satunya sangat berkaitan erat dengan dunia kultural atau budaya dimana produk post-modern cenderung menggantikan berbagai produk modern.
Produk tersebut dapat dilihat dalam dunia seni. Jameson (1984) mempertentangkan lukisan Andy Warhol di era post-modern yang menampilkan sosok Marilyn Monroe yang hampir tanpa emosi dengan lukisan Munch yang modern yaitu the scream.  The scream merupakan lukisan sureal yang menunjukan kedalaman keputus asaan atau aliensi. Lukisan ini dianggap dangkal dan tindak menggambarkan emosi yang sesuangguhnya. Begitu pula dalam lukisan “kaleng sup Campbell” karya Andy Warhol lainnya. Dalam produk TV, program father known best merupakan bentuk tayangan modern sedangkan twin peaks dianggap sebagai bentuk tayangan yang Post-modern. Begitu juga dalam film, hingga dunia arsitektur.
Produk post-modern dianggap suatu re-enchantment terhadap kekecewaan pandangan modernitas dunia. Kekecewaan terhadap dunia dan alat konsumsi kemudian mendorong terjadinya re-enchanment untuk kontrol ketertarikan dan eksploitasi konsumen. Kata kuncinya terletak pada “penampilan” atau “tontonan”. Aplikasi dalam dunia arsitektur dapat dilihat dari sosok fisik sebuah bangunan yang berada di perkotaan. Bangunan post-modern ini cenderung lebih menarik untuk “ditonton” dan menjadi simbol tertentu untuk pemaknaan sebuah kultur, terutama pada masyarakat perkotaan.


 
Arsitektur Post-modern masyarakat perkotaan Jakarta
Jakarta, salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam mengadopsi nilai budaya post-modern. Hal ini teraplikasi dalam berbagai bentuk arsitektur bangunan yang tersebar di kota Jakarta. Beberapa diantaranya adalah Wisma BNI 46 dan Entertaintment X’nter (eX) Mall, yang keduanya dibangun dengan konsep post-modern yang cukup kuat.
Wisma BNI 46 merupakan salah satu bangunan tertinggi di Indonesia dan berada di posisi 123 tertinggi di dunia. Berdiri pusat bisnis di jalan Sudirman dan menjadi icon kota Jakarta dan icon postmodern karena penampilannya. Desain bangunan ini sangat berbeda dengan banguan lainnya yang terlihat lebih “boxy”  dengan kaca dan baja yang menjadi ciri bentuk arsitektur modern. Hal yang cukup membedakan bangunan ini dengan gedung lainnya adalah penggunaan warna yang lebih variatif dan tidak monoton, namun menggunakan warna biru dengan panggul-panggul di kedua sisinya (tidak kotak) yang menjadikan bangunan ini berbeda disamping ornamen lain yang minimalis.
Selain itu atap gedung yang meruncing juga menjadi ciri khas dari arsitektur gedung lainnya. Penafsiran beragam terhadap bentuk atap gedung ini menunjukan ciri post-modern lainnya yang dipercaya sebagai sesuatu yang bebas untuk dimaknai. Atap gedung ini berbentuk seperti pena dengan ujung yang runcing. Namun menurut Arsiteknya, atap ini merupkan simbol logo Bank BNI yaitu layar yang terdapat pada logo lama Bank ini.
Budaya kerja yang muncul dari mereka yang bekerja di gedung ini juga patut dicermati. Mereka yang berkesempatan bekerja di pusat perkantoran BNI 46 akan menyesuaikan diri dengan lingkungannnya, termasuk mengubah budaya kerja dengan penampilan yang selalu necis dan rapi, sangat berbeda dengan lainnya. Hal ini sangat representatif, sebab tidak semua orang dapat bekeerja di salah satu gedung tertinggi ini.


 Aplikasi budaya Post-modern ini juga dapat dilihat dalam konsep bangunan yang ada di Plaza Indonesia entertaintment X’center (eX).  Mall ini menggunakan warna yang cukup berani untuk sebuah konsep mall. Mall ini tersambung dengan Plaza Indonesia yang menjadi pusat pertokoan produk produk terkenal. Mall ini dirancang bukan hanya sebagai tempat berbelanja atau aktivitas jual beli layaknya pemahaman mall kontemporer, namun juga menyediakan unsur entertain di dalamnya. Pengunjung dapat menikmati beragam fasilitas yang ada di dalam eX.
Dalam Post-modern sendiri, diungkapkan bahwa alasan terpenting penciptaan simulasi atau pengubahan fenomena “rill” menjadi simulasi adalah bahwa mereka dapat dibuat menjadi lebih spektakuler dibanding aslinya sehingga lebih menarik banyak konsumen. Hal ini bisa dilihat dalam konsep interior eX yang sangat megah, dan membuat orang serasa berada di luar negri, dan hal ini merupakan suatu simulasi dalam konsep post-modern. Hal ini sama dengan Las Vegas yang menciptakan banyak setting artifisial dalam satu lokasi, mulai dari Montecarlo hingga Paris sehingga orang tidak perlu mengunjungi tempat sebenarnya dari replika yang ada tersebut.
 Dalam eX banyak ditemui butik, club dan restoran, sehingga pengunjung tidak harus keluar dari eX hanya untuk sekedar makan atau ke club. Selain itu disini juga dapat ditemui berbagai franchise produk dari luar negeri, sehingga para pengunjung pun tidak perlu repot ke luar negri bila hanya ingin memakan sepotong pizza.  Pada level ini kebutuhan dasar untuk aktivitas jual beli tidak lagi menjadi hal yang utama, tetapi ditunjang dengan berbagai hal lain yang lebih bersifat menghibur. Begitu pula dengan fasilitas lainnya seperti bioskop dan pusat permainan lainnya.
Diungkapkan bahwa jiwa Post-modern menimbulkan banyak interpretasi dan pemaknaan dari penggunjung. Seperti penggunaan LCD TV di lantai masuk Mall. Keseluruhan hal ini merupakan suatu bentuk manipulasi dan penanaman budaya konsumerisme bagi para pengunjung agar lebih tertarik dengan produk yang ada di dalamnya.
Pertanyaan yang kemudian perlu dijawab apakah tempat seperti ini menimbulkan keretakan yang lebih dalam pada status sosial masyarakat Jakarta. Masuk ke eX menurut pengakuan beberapa pengunjung serasa memasuki sebuah tempat di Amerika. Harga yang ditawarkan di tempat ini terhadap sebuah produk juga sangat berkali lipat bila di bandingkan tempat lainnya. Para pengunjung disini pun merasa perlu untuk menyesuaikan dandanan bila masuk ke dalam Mall ini.
Disadari atau tidak hal ini telah menjadi semacam budaya baru, yang membedakan struktur pada masyarakat perkotaan, membuat masyarakat menjadi lebih konsumerisme dan memperhatikan hal yang lebih dari sekedar lifestyle.

Tidak ada komentar: