02 Februari 2011

Film dan Kajian Budaya




Film studies merupakan salah satu objek kajian yang digunakan untuk melihat perkembangan bentuk dunia fiksi yang dikonstruksi dalam penggabungan dunia seni peran dan dunia teknis audio visual elektronik. Dalam kaitannnya dengan cultural studies, film studies lebih menekankan pada text dan simbol yang dibuat dalam sebuah film dengan memperhatikan nilai estetika yang terkandung dalam sebuah cerita. Sedangkan cultural studies lebih menekankan pada content budaya termasuk di dalamnya text dan simbol yang menjadi bagian dalam film studies.
Mengkaji sebuah film akan lebih menarik bila melihat dari sudut estetika dan nilai keindahan yanga terkandung di dalamnya. Nilai ini merupakan harga mati untuk kualitas sebuah film yang diproduksi. Estetika film merupakan faktor dominian bagi para sineas saat membuat sebuah karya yang berkualitas, dapat diterima dan menyentuh emosi penonton. Disamping faktor lainnya yang ada dalam konteks dunia perfilman seperti faktor ekonomi, politik, sosial dan budaya film.
Film merupakan sebuah objek kajian dan bukan ilmu, yang dinikmati oleh audien dengan mengikuti alur yang ditampilkan dalam film tersebut. Film dapat diumpamakan sebagai sebuah komunikasi naratif, karena pada dasarnya film berisikan jalan cerita yang mengalir sesuai dengan tujuan film tersebut.
Cerita film merupakan sebuah bentuk visual fiksi ataupun nonfiksi yang dikemas dalam sebuah alur cerita. Pada prinsipnya text yang terdapat dalam struktur sebuah film, menurut Bordwell memiliki skema tertentu yang merupakan inti struktur tekstual film. Ia menggambarkan tiga pembagian utama dalam lingkaran skema tersebut, pertama nondiegetic representation, kedua, diegetic world dan ketiga karakter.
Nondiegetic representation merupakan text dan simbol film yang tercipta darai bentuk teknis pembuatan film. Hal ini meliputi teknik pengambilan gambar/kamera, editing, termasuk didalamnya simbol yang muncul dari penggunaan pelengkap produksi mulai dari kostum, make up dan penonjolan-penonjolan tertentu, termasuk juga musik dan sound effect.
Kedua yaitu diegetic world yang pada dasrnya berisikan kekutan pencitraan film terhadap dunia fiksi, atau ruang lingkup cerita. Ketiga, yang berada pada pusat tekstual film adalah karakter pemain, yang pada prakteknya lebih banyak membawa simbol dan makna, termasuk percontohan bagi audien, dan merupakan sentral film yang membuat hidup atau tidaknya sebuah film. Penciptaan karakter harus melihat banyak aspek, terutama kekuatan peran tersebut dalam rangkaian cerita film yang dibuat.
Karakter dalam tokoh film dapat ditonjolkan dengan berbagai cara, termasuk dengan penekanan pada kebiasaan, sifat dan sikap, tindakan yang dilakukan tokoh film dan prinsip hubungan yang berlaku antara satu karakter dengan karakter pendukung lainnya. Penciptaan tokoh nantinya akan menjadi pengikat emosi audien untuk terus menikmati film dan mengerti dengan simbol tekstual dan makna yang disampaikan dalam film.
Style atau gaya yang dimiliki sineas dapat dilihat dari banyak komponen, mulai dari pengangkatan isu film, teknik kamera dan pemotongan gambar termasuk gaya penyelesaian pada pasca produksi, hingga dimensi gerakan yang tercipta dalam penyutradaraan.
Menciptakan karya yang bernilai estetika dan seni tinggi, merupakan tantangan sulit bagi para sineas, tidak saja bagi para pemula, namun para profesional perfilmanpun masih harus mempelajari banyak hal dalam membuat film yang baik, dalam konsep estetika.
Film yang baik mampu menampilkan manajemen konflik yang beragam. Dalam teori konflik, terdapat tiga level konflik yang dapat diaplikasikan dalam pembuatan alur cerita film. Konflik bertujuan untuk menciptakan keteertarikan penonton, memainkan emosi dan melarutkan audien tersebut dalam suasana yang diciptakan, sehingga mereka dapat memahami makna film yang ingin ditonjolkan.
Tiga level konflik dalam teori ini antara lain, inner conflict, personal conflict, dan ekstra personal conflict. Tiga level konflik ini mampu menciptakan emosi beragam bila diaplikasikan dengan benar dalam produksi film. Konflik yang palinng sering muncul dalam alur cerita nantinya akan menentukan genre film yang dibuat.
Inner conflict, merupakan konflik yang paling sulit untuk diolah, namun memiliki tingkat emosionl yang sangat tinggi bila konflik dari dalam ini dapat dimunculkan dan dibentuk sedemikian rupa, sehingga audien dan penonton mampu merasakan konflik batin yang diperankan tokohnya.
Konflik ini berpusat pada diri, emosi dan faktor kejiwaan lain yang bisa digambarkan dengan simbol gerak ataaupun act oleh pemerannya. Penonjolan konflik dari dalam, baik di hati ataupun fikirannya, akan menciptakan ruang fikir yang mengarahkan penonton untuk mengolah informasi dengan lebih aktif. Hal ini dapat dilihat pada film yang menampilkan kisah kisah psikologis pada tokohnya. Konflik ini dapat dikembangkan lebih lanjut pada konflik-konflik selanjutnya.
Konflik pada level selanjutnya merupakan konflik personal yang biasanya merupakan lanjutan dari konflik diri. Konflik ini dapat terjadi antara diri dengan lingkungan, seprti konflik dalam keluarga, dalam hubungan baik pertemanan ataupun dalam percintaan. Konflik ini melibatkan dua tokoh atau lebih, namun tetap berfokus pada tokoh sentral yang di tonjolkan dengan karakter khusus.
Konflik personal merupakan konflik yang sangat sering ditemui dalam film, apapun bentuknya. Konflik ini terasa lebih menyentuh, sebab terdapat hubungan didalamnya. Pada film ataupun tayangan televisi lainnya biasanya akan menciptakan tokoh berlawanan, protagonis dan antagonis. Tokoh ini biasanya memiliki hubungan emosional yang berkonflik dan membuat sebuah masalah ada dalam cerita. Namun dalam penafsiran lainnya konflik bisa saja dibuat dalam bentuk apapun, termasuk konflik pada level selanjutnya, yaitu ekstra personal konflik.
Konflik Ekstra personal merupakan seuatu yang berada diluar tokoh, namun masih memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh film dan menjadi sesuatu yang sangat luas dan berdampak dalam lingkup yang luas. Hal ini dapat dilihat pada konflik yang diciptakan dalam social institution, individual society ataupun physical environment. Namun bisa saja dalam satu film terdapat lebih dari satu konflik yang berujung pada satu penyelesaian cerita yang happy ending, setelah mengalami masa keteganggan konflik hingga level klimaks.
Titik klimaks merupakan hal yang menentukan dalam film. Titik ini menjadi akhir penentuan cerita film dan menentukan apakah emosi dan simbol yang didesain dapat sampai pada tujuannya.
Dalam pembuatanya, desain film dapat dibagi dalam tiga struktur berbeda. Classical design (archplot), minimalism (miniplot) dan anti structure (antiplot). Ketiga bentuk ini memiliki karakter dan alur yang biasanya sangat berbeda, namun tetap berpegang pada nilai estetis produksi teks film.
Classical desaign di nilai sebagai bentuk yang paling baik dalam pembuatan film. Bentuk ini memiliki hubungan kausalitas atau sebab akibat, dan dicirikan dengan pentup cerita adanya penutup cerita yang menyelesaikan konflik setelah kondisi klimaks. Ending ini biasanya tertutup. Bentuk klasik ini memiliki waktu yang linear dan biasanya sangat konsoisten dengan realitas yang ada. Konflik yang dimunculkan biasanya konflik eksternal, baik personal ataupun ekstra personal. Namundalam beberapa aksinya, konflik yang berasal dari dalam juga sering dimunculkan. Karakter yang dibentuk biasanya pelaku utama tunggal dan bersifat aktif. Film seperti ini terbilang cukup sulit untuk didesaign, terutama bila para sineas yang memiliki tingkat imajinasi yang tinggi, yang terkadang sering membuat lompatan dalam strukturnya, dan membuat ketidak konsistenan dengan kenyataann. Namun bentuk seperti ini juga mendapat porsi khusus bagi para pencinta seni perfilman.
Desain kedua, merupakan bentuk yang lebih terbuka dan longgar. Desain minimalis atau yang dikenal dengan miniplot. Desain ini dicirikan dengan penutup film yang terbuka dan berkembang. Didominasi dengan internal konflik, dan memiliki tokoh protagonis yang multi dan pasif. Karakter film ini biasanya statis dan dapat berubah-ubah.
Bentuk selanjutnya adalah anti structure atau yang dikenal juga dengan antiplot. Disini interpretasi sineas merupakan simbol yang dapat ditafsirkan beragam dan menonjolkan nilai tertentu yang dianggap sangat estetis. Bentuk seperti ini memilki coincidence, dan waktu yang tidak linear, sering tidak konsisten dengan kenyataan. Namun bentuk seperti ini juga memiliki kemampuan perubahan yang tinggi dan sangat statis. Dua bentuk terakhir ini juga dinilai sebagai bentuk yang non plot.
Alur cerita yang dilalui tokoh biasanya bersifat beragam. Ada pola cerita yanag semakin lama semakin meningkat dan mencapai titik klimaks pada satu tingkatan, yang kemudian ditutup dengan ending cerita yang beragam. Namun ada pula pola alur yang naik turun hingga akhir cerita, dan tetap memiliki penyelesaian konflik cerita di akhir film. Hal ini pada prinsipnya sama bermanfaat dan dapat diaplikasikan dalam membuat film yang menarik.
Dalam sebuah cerita film, para tokoh tidak hanya melewati satu masalah,namun banyak masalah yang akhirnya menimbulkan tindakan pada diri tokoh tersebut. Hal ini dikenal dengan gap yang dapat berbentuk inner personal atau ekstra personal konflik. Tiap gap yang tercipta akan menimbulkan aksi, hingga ending film berakhir.


Text film Saving Private Ryan


Saving private Ryan adalah salah satu contoh film yang berkesempatan untuk dianalisis dan menjadi percontohan untuk melihat struktur desain film, ploting dan teks naratif film ini. Film ini merupakan film yang berseting suasana perang yang didukung sedemikian rupa dengan lokasi dan desain lokasi yang sangat menyerupai realitasnya.
Bila dilihat dari arus naratifnya, film ini dapat dikelompokan dalam desain archplot atau desain klasik.
            Dari segi penajaman konflik, film ini sangat mampu membawa penontonya dalam suasana konflik berkepanjangan. Awal film sudah memunculkan konflik eksternal yang dibumbui dengan konflik internal. Hal ini didukung juga dengan penekanan gambar yang banyak menyentuh detail sehingga lebih gampang untuk ditafsirkan penonton. Film ditampilkan dengan sangat realistis dan tidak mencoba mengingkari dunia nyata yang terjadi pada setting waktu yang dipilih.
            Konflik film ini dapat dirasakan dalam emosi yang naik turun, berganti dengan cepat bdari konflik internal-eksternal, personal hingga ekstra personal. Hubungan yang diciptakan dalam film sangat kuat dan menciptakan saling ketergantungan dalam satu tokoh dan satu penggal cerita. Konflik ini mampu bertahan hingga akhir cerita dan sangat memancing keingintahuan dari satu penggal cerita ke lainnya.
            Karakter yang dimunculkan juga memiliki perbedaan yang cukup bervariasi dan mewakili satu traits yang berbeda. Dalam hal ini beberapa tokoh, selain mengalami konflik eksternal juga mengalami konflik internal yang membuat penonton dapat lebih mengerti dengan konsep karakter yang dimainkan.
            Kekuatan sinematografi film ini juga patut diperhitungkan. Film ini terbilang sangat mampu menseting tempat dan waktu dengan sangat baik. Seting perang dunia ini memberikan gambaran sesungguhnya tentang apa yang terjadi pada masa tersebut.
Alur cerita yang memiliki banyak gap, aksi dan ending ini, pada akhirnya ditutup dengan penyelesaian konflik yang cukup tragis bagi tokoh namun selesai secara eksternal. Kematian tokoh Jendral dalam film ini membawa penafsiran yang sangat beragam, terkait dengan tokoh Ryan. Ending ini sebenarnya berujung pada konflik batin tokoh Ryan, dengan perasaan bersalahnya. Jadi dapat dilihat, film ini diawali dengan konflik batin dan diakhiri dengan sisa konflik yang bagi tokoh belum bisa selesai.
            Secara teknis, film ini juga cukup baik dan tidak membingungkan. Pergerakan kamera cukup dinamis dan sesuai dengan pandangan mata. Transisi tidak terlalu banyak dan menggunakan teknik kamera yang sangat bervariasi, mulai dari middle, close up, ekstrim close up, dan juga long shoot hingga ekstra long shoot. Hal ini membuat susunan cerita yang lebih terbaca dan tidak ada jump shoot.
            Selain teknis, dukungan sound effect yang cukup mewakili keadaan cerita juga menjadi pendukung film ini. Effek tertentu mampu dimunculkan dengan baik, termasuk musik yang muncul pada beberapa sesi cerita.

Cinematography


 
The cinematography is the art and occupation of making movies, we can define it as the creation of a movement illusion by means of the rapid succession of a series of images. It constitutes a long and creative process of production in which participate a series of elements such as cameras, lights, actors and when they merge each other in a scene make notice aspects like illumination, picture and performance among others; this process wouldn't be possible without the collaboration of specialized professionals in these topics.

This process is divided in teams constituted by few people or teams constituted by dozens of them, for this reason the production can result a failure if it doesn't have a high level of organization. It is focused in the existent relationships among each individual picture that conform a movie, this involves illumination, cameras, performance, special effects and in general, everything the director thinks is convenient to use to achieve his idea.
The cinematography includes two big stages, the first one it constituted by taking of images with a camera and the second one consists in its exhibition with a projector.

The most important moments in the production process are following:
  • Project study. - Concepción and structuring.
  • Project valuation. - Scenarios, characters, localizations and technical team breakdown.
  • Financing. - Searching of financial resources coming from diverse sources.
  • Preparation or Pre-production. - Technical script supervision, crew selection, actor's casting, work plan, etc.
  • Filming. - Daily work control, financial forecast, filming teams coordination.
  • Final post-production.
  • Final Financial control. - Financial balance of the production. 
  • Movie Promotion and Exploitation or commercialization.

     FILM



    The film was made of celluloid before, material used for filming since the cinema was born. Now it is made of a very similar material, but this one isn't inflammable. It is impregnated by a material called emulsion which is sensitive to light and colors. Some films are more sensitive to light than others. The films that need a little light are used to make pictures or night scenes and those which need more light are good for making scenes during the day. The films which need a little light are called very sensitive films and those which need abundant light receive the name "not very sensitive to light".

    It consists of a cellulose acetate base approximately 0.006 in. thick and coated with a light-sensitive emulsion that is made in large rolls about 54 in. wide and about several thousand feet long which slits into 35-mm strips, packed, and perforated in lightproof bags and cans in rolls 100, 200, 400, and 1000 ft in length.
    There are two different types of film: negative film, from which a print is made in order to see the original subject in its true likeness, and reversal film, in which a negative is first formed in the original film and from this a positive is formed in the same piece of film.

    Formats.- There are six formats of films which are determined by the total width and the useful surface of each picture.

    Amateur formats:
  • 8mm (14 mm²)
  • super 8 (21mm²)
  • 9,5mm (50mm²)
  • 16mm (70mm²)
Professional formats:
  • 35mm (390mm²), the most used
  • 70mm (1070mm²), used in the years 60 and 70 
  • 70 mm, IMAX used at this moment

    PROJECTORS

    A film projector is an optic-mechanic device which is used to show movies, it project them in a screen. Most of the optic and mechanical components, except the concerning ones to illumination and sound, are also present in film cameras.

    This device consists on a point of light whose rays are picked up by a curved mirror which throws them to a transparent film, at the same time they pass through an objective (lens) that increases the luminous pictures which are projected in the screen.

    The projector has, the same as the photographic camera, two bobbins: a feeder that provides the film to the projector and another, the receiver that picks up the film once projected. It also has a mechanism that transforms the photographed sound in real noises.

    The projector system in a modern motion picture theater has five main assemblies:
  • Optical sound head. - Reproduces optical sound (photographically recorded).
  • Projector head. - Projects the image onto the screen.
  • Lamphouse. - Furnishes the illumination for the picture.
  • Shutter and the platter system.- Feeds the film through the projector head.
  • Some projectors have a second sound head for the reproduction of magnetic sound (magnetically recorded).
Commercial projectors project the film to a speed of 24 pictures per second. Other projectors do it to 18 pictures. According to the film format, the projectors can be:
  • Super 8mm and 8mm (single-8) projectors
  • 16mm projectors 
  • 35mm projectors