10 April 2011

(Unfinished Thesis Part 2) Hiperrealitas Visual Film Hollywood :Resepsi Wacana Tekstual Pada khalayak pasca bencana Terhadap Film Science Fiction “2012” (Bagian 1)


Latar Belakang
Gempa bumi dahsyat mengawali serentetan kejadian penghancuran di hari kiamat 2012. Gempa dengan kekuatan sangat besar tersebut kemudian membuat bumi retak dan menelan semua yang ada di atasnya, tak terkecuali manusia, tumbuh-tumbuhan, rumah, bahkan bangunan-bangunan pencakar langit ratusan lantai yang menjadi simbol kedigdayaan Amerika.

Gunung-gunung berapi memuntahkan laharnya menjadi hujan bebatuan vulkanis. Tak sampai disini, meteor dengan ukuran sangat besarpun menerobos atsmosfir bumi dan menghantam samudera yang menyebabkan tsunami terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, menenggelamkan benua hingga pegunungan Himalaya, dan mencairkan puncak es abadi yang berada di daratan tertinggi dunia tersebut. Tidak ada yang dapat mengelak.

Betapa fantastis dan imajinatifnya bayangan manusia tentang kejadiaan hari akhir yang diprediksi (dalam film) terjadi pada tahun 2012. Penggambaran kiamat (Doomsday) yang selama ini hanya berada pada wilayah imajinatif dan khayalan manusia telah disempurnakan secara material dan kasat mata oleh teknologi Industri perfilman dunia, Hollywood.

Visual yang spektakuler, membuat penikmat film merasakan secara sadar dan nyata tentang realitas kedahsyatan hari kiamat. Visual penonton dimanjakan dengan kejadian dan peristiwa alam yang belum pernah terjadi dan belum pernah mereka alami. Penonton diajak bertamasya sejenak ke masa depan, dan melihat proses penghancuran bumi beserta isinya pada masa akhir dunia.

Namun kenyataannya, penonton hanya duduk, diam, dan memandang sebuah layar dari kursi masing-masing. Tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa. Kejadian-kejadian menghebohkan tersebut hanya ada di ruang (kotak) simulasi film yang hanya berkorelasi pada pemahaman subjektif penonton. Namun, tidak dapat disangkal bahwa secara perlahan kognitif penonton telah digiring untuk mempercayai realitas yang digambarkan dalam film sebagai bentuk realitas yang sesungguhnya.

Penonton dibawa hanyut dalam hiperrealitas visual yang “melampaui”. Hingga taraf ini, produsen pesan (sutradara) telah melakukan modifikasi tanda (visual) untuk melahirkan makna dengan bantuan teknologi film. akibatnya film ini penuh dengan tanda yang hyper.
Pada dasarnya hiperrealitas film dibangun dengan sistem tanda yang melampaui (hyper sign).

Baudrillard mengungkapkan bahwa dunia hiperrealitas adalah sebuah dunia realitas yang dalam konstruksinya tidak dapat dilepaskan dari produksi dan permainan bebas tanda-tanda yang melampaui (hyper signs) yaitu tanda yang melampaui prinsip, definisi, struktur dan fungsinya sendiri, sehinga tanda-tanda tersebut kehilangan kontak dengan realitas yang direpresentasikannya.

Tanda-tanda didalam wujud hyper signs –yang dikonstruksi sebagai komoditi didalam wacana kapitalisme, menuntut adanya pengemasan, pesona, kejutan, provokasi dan daya tarik, sebagai logika komoditi. Kemasan tanda dan mediumnya, pada satu titik, lebih menarik Perhatian setiap orang ketimbang pesan atau makna yang disampaikannya, yang menggiring orang pada ekspektasi tanda dan medium itu sendiri, sambil melupakan pesan dan maknanya (Piliang, 2003:53-54).

Dalam semiotika, bila segala sesuatu yang dalam terminologi semiotika disebut sebagai tanda (sign), semata alat untuk berdusta, maka setiap tanda akan selalu mengandung muatan dusta; setiap makna (meaning) adalah dusta; setiap pengguna tanda adalah para pendusta; setiap proses pertandaan (signification) adalah kedustaan.

Umberto Eco menjelaskan bahwa bila sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya ia tidak dapat pula digunakan untuk mengungkapkan kebenaran (truth). Hipersemiotika tidak sekadar teori kedustaan, melainkan teori yang berkaitan dengan relasi-relasi lainnya yang lebih kompleks antara tanda, makna dan realitas, khususnya relasi simulasi. (Piliang, 2003:44-58).

Umberto Eco

Dunia realitas disaring, difragmentasi, dielaborasi dan dikemas menjadi hyper signs melalui mekanisme komodifikasi tanda-tanda. Elemen-elemen tanda yang merupakan bagian dari dunia realitas kini dikombinasikan dan berbaur dengan elemen-elemen tanda yang bukan realitas (fantasi, imajinasi, ideologi) yang menciptakan semacam realitas baru yang tidak lagi berkaitan dengan realitas yang sesungguhnya.

Penggambaran realitas yang tercipta akibat penggunaan hyper signs membentuk hiperrealitas, yang menyebabkan perbedaan antara realitas dan non realitas menjadi kabur bahkan lebur (Piliang, 2003: 53-54).

Dalam hubungan hipersemiotika dan postmodernisme dapat dikatakan bahwa Hipersemiotika merupakan sebuah kecenderungan yang melampaui semiotika konvensional (khususnya semiotika struktural), yang beroperasi dalam sebuah kebudayaan yang di dalamnya dusta, kepalsuan, kesemuan, kedangkalan, imanensi, permainan, artifisialitas, superlativitas dirayakan sebagai spirit utamanya; dan sebaliknya kebenaran, ontentisitas, kedalaman, transendensi, metafisika ditolak sebagai penghambat kreativitas dan produktivitas budaya.

Sedangkan postmodernisme merupakan sebuah kecenderungan seni, sastra, arsitektur, media dan budaya pada umumnya, yang merupakan sebuah ruang tempat tumbuh subur serta membiaknya dengan tanpa batas dan pembatas berbagai bentuk hyper-sign di atas. Postmodernisme adalah sebuah ruang hidup bagi kecenderungan hipersemiotika, yang di dalamnya berbagai hyper-sign dikembangkan sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya komoditi dan budaya konsumerisme kapitalisme. (Pilliang, 2003: 59-60).

Tanda (visual) berlebihan yang muncul dalam film 2012 kemudian membuat banyak pihak merasa perlu bersikap, terutama kalangan ulama di Indonesia yang menganggap film ini sebagai bentuk pendahuluan kehendak Tuhan. salah satunya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang mengharamkan film 2012 untuk ditonton.

mereka berkeyakinan dampak isi cerita film tersebut akan membuat masyarakat resah, terkait tibanya hari kiamat pada 2012. MUI Kabupaten Malang juga mengimbau umat Islam untuk tidak menonton film tersebut apalagi mempercayai isinya (Republika, 17 November 2009).

Hal ini tentunya tidak hanya terbatas pada dampak film, tetapi juga menyangkut keyakinan spiritual dan keagamaan. MUI Pusat menambahkan bahwa poin keberatan para ulama adalah bahwa kiamat tidak boleh divisualisasikan dan tidak boleh diprediksi (www.okezone.com)

Namun, sebagian ulama lainnya justru berpendapat sebaliknya. para pengurus pondok pesantren di Jombang justru bersikap lebih terbuka dengan membolehkan siapapun menonton produk Hollywood ini. Mereka hanya mengimbau agar para penonton,
terutama kalangan santri, menyadari bahwasannya film yang dihasilkan
dari ramalan suku Maya itu bersifat fiksi/khayalan semata, dan dapat mengambil sisi positif dari film 2012 (Pos Kota, 17 November 2009).

Kontroversi pendapat tersebut tidak menyurutkan rasa penasaran penonton film di tanah air. Film '2012' justru menjadi lebih banyak mencuri perhatian para penikmat film. Terbukti dengan banyaknya penonton yang berbondong-bondong untuk menyaksikan film tersebut di bioskop, dan menjadi pemberitaan di beberapa media cetak dan elektronik. Film ini pun langsung melejit menjadi box office dalam waktu tiga hari. (www.vivanews.com).

Kejadian ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga diseluruh daerah yang memiliki jaringan bioskop XXI di seluruh Indonesia. Seperti pantauan Antara di beberapa bioskop di Kota Bandung, hanya dalam beberapa menit seluruh tiket film "2012" semuanya laku terjual di tiap jam pertunjukannya.

Bahkan Salah seorang pengunjung yang hendak membeli tiket film bertema kiamat ini harus mengantri sejak siang hari untuk bisa mendapatkan tiketnya. Fenomena ini juga terjadi di daerah lainnya seperti Menado, Makasar, Surabaya, Medan, dan kota-kota lainnya. (www.antaranews.com).  

Masyarakat kemudian masuk dalam kondisi tidak mampu membedakan realitas film virtual dengan realitas sesungguhnya. film pada dasarnya dibentuk melalui seperangkat proses virtualitas yang kompleks untuk memperoleh kesempurnaan bentuk untuk mengaburkan makna sebenarnya. Hal ini manjadi salah satu ciri hiperrealitas dimana kesadaran tidak mampu membedakan antara kenyataan dari fantasi terlebih pada era kemajuan teknologi budaya postmodern.

Hiperrealitas diartikan sebagai suatu karakteristik cara bagaimana kesadaran kita mendefinisikan apa yang sebenarnya dimaksud dengan ’kenyataan’ di dunia, dimana sebagian besar media secara radikal membentuk dan menyaring  realitas asli atau pengalaman yang digambarkan.



Jean Baudrilard

Bagi Baudrillard, dunia sekarang adalah dunia simulasi, dan film serta tayangan-tayangan televisi menjadi bagiannya. Pandangan kritis posmodern Baudrillard membuka pandangan yang berbeda, dimana film ataupun tayangan televisi justru tidak mendasarkan pada realitas dasar bahkan lebih ekstrimnya lagi tidak ada realitas dasar yang menjadi acuannya, dengan kata lain pada tahap ini muncul simulasi yang sempurna. Ada empat tahapan agar dapat menghasilkan simulasi yang sempurna yaitu :
  • Berupa pencitraan sebagai refleksi dari realitas dasar
  • Menutupi dan menyesatkan realitas dasar
  • Menutupi ketidakhadiran realitas yang dasar
  • Tidak mengacu atau memiliki relasi dengan realitas manapun
(piliang, 2003: 134).

Umberto Eco dalam bukunya Travels in Hyper-reality (1986), menjelaskan bahwa hiperrealitas adalah segala sesuatu yang merupakan replikasi, salinan atau tepatnya imitasi simulacrum dari unsur-unsur masa lalu yang dihadirkan oleh konteks masa kini sebagai sebuah nostalgia.

Eco melihat fenomena hiperrealitas sebagai persoalan penjarakan, yaitu obesesi menghadirkan masa lalu yang telah musnah, hilang, dan terkubur (seperti dinosaurus), dalam rangka melestarikan bukti-buktinya, dengan menghadirkan replika, tiruan, salinan dan imitasinya. Sehingga ketika masa lalu tersebut dihadirkan di dalam konteks waktu masa kini, maka ia kehilangan kontak dengan realitas, dengan pengertian masa lalu dapat tampak (seakan-akan) lebih nyata dari kenyataan yang disalinnya, lebih sejati dari model yang ditirunya, sehingga menciptakan sebuah kondisi meleburnya salinan (copy) dan aslinya (original) (Eco, 1986:43-48).

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka menurut Eco, didalam fenomena hiperrealitas masih ditemukan adanya prinsip representasi, dengan perkataan lain, bahwa suatu salinan atau tiruan masih merupakan representasi dari rujukan atau referensinya. Dunia hiperrealitas mereproduksi tidak hanya realitas yang hilang, akan tetapi juga dunia tidak nyata : fantasi, mimpi, ilusi, halunisasi atau fiksi ilmiah.

Hal ini dapat dijelaskan melalui dua contoh kategori hiperrealitas yaitu pertama pada musium lilin atau musium tiruan karya seni dan kedua pada kota hantu. Musium lilin adalah reproduksi realitas-realitas sejarah, seperti Monalisa, Marilyn Monroe, Menara Pisa dll. Sementara kota hantu adalah reproduksi fantasi, mimpi, ilusi atau fiksi ilmiah seperti Donald Duck, Cinderella, Batman, Superman, Terminator dll (Piliang, 2003: 137).



Hal seperti ini berlaku pada film 2012. Ide dasar film ingin mensimulasikan kiamat adalah makna ironi yang dibentuk produsen makna. Tanpa disadari, semakin lama popularitas film melejit drastis. Tidak saja di Indonesia, tetapi juga di negara lainnya di dunia. Isu kiamat merupakan isu yang sangat umum dan sangat menyentuh keyakinan tiap manusia, sehingga tidak heran, bila rasa penasaran tiap orang sangat tinggi. Belum seminggu diputar di bioskop, film kolosal tentang superbencana yang melanda bumi tersebut langsung naik ke peringkat satu box office.

Seperti dikutip dari Associated Press, di pekan pertamanya, film buatan Sony Pictures tersebut meraih USD 225 juta (sekitar Rp 2,1 triliun). Di pasar domestik AS saja, film itu telah meraup USD 65 juta (Rp 609 miliar), sedangkan sisanya berasal dari pasar luar negeri. Penonton di Prancis tercatat yang paling banyak menambah pundi-pundi Sony Pictures dengan pendapatan USD 17,2 juta (sekitar Rp 161 miliar) (www.jawapos.com).

sedangkan di Rusia, 2012 meraup pendapatan hingga US$15,3juta, dan di Korea Selatan mencapai US$9,9 juta. (www.mediaindonesia.com). Untuk Indonesia, Sony Picture memprediksi pendapatan Film 2012 akan menembus angka 5 Triliun rupiah, untuk kategori film non-sekuel (www.bisnis.com).

Distributor film '2012', Columbia Pictures, menyebut kalau film yang dibintangi oleh John Cusack itu menjadi yang terlaris sepanjang sejarah. Selama ini hampir semua film laris sepanjang sejarah diisi oleh film yang diadaptasi dari buku-buku laku. ‘Harry Potter' atau 'The Da Vinci Code' atau film bersekuel, Seperti 'Batman Begins' dan 'The Dark Knight'. (www.anekayess-online.com).  

Film 2012 bercerita tentang akhir dunia yang diprediksi berakhir 21 Desember 2012. hal ini didasari pada penghitungan kalender suku mayan di Brazil. bencana alam dahsyat kemudian datang dengan sangat cepat hingga menenggelamkan dunia menjadi benua baru. Film ini dibintangi John Cusack dan Danny Glover dan disutradarai oleh sutradara "spesialis" film bencana, Roland Emmerich.

Kisah film 2012 ini sepintas tak jauh berbeda dengan film soal bencana besar di bumi, seperti The Day After Tomorrow (2004) dan Deep Impact (1998). Hanya saja, film 2012 lebih hebat  dan dahsyat penggambarannya. Efek visualnya terlihat lebih nyata. Meski dari sisi efek visual patut diacungi jempol, tidak demikian dengan alur ceritanya. Lewat film 2012 ini setidaknya penonton bisa melihat gambaran bagaimana dunia (sedikit) hancur karena kekuatan alam yang amat dahsyat.

Penyebutan kiamat untuk film ini tidak tepat, lantaran masih ada manusia yang selamat. Mungkin lebih tepat bencana besar, seperti yang terjadi di zaman Nabi Nuh, di mana banjir besar melanda bumi, dan Nuh bisa selamat setelah naik sebuah bahtera berisi semua jenis binatang dan tumbuhan agar bisa melanjutkan hidup pascabencana. (www.manadopost.com).

Pembuat film 2012, yaitu Hollywood melalui Colombia Picture, memang dikenal sebagai gudang teknologi film mutakhir. raksasa hiburan dunia ini terkenal dengan kekuatan teknologi perfilman yang sangat maju di dunia. Industri film Hollywood merupakan peleburan dari institusi komersil dan teknologi pembuatan film, termasuk didalamnya perusahaan perfilman, studio, cinematography, screenwriting, pre-production, film festival, sutradara, aktor dan film personel.  (http://EzineArticles.com/?expert=Victor_Epand).  

Dalam perkembangannya, Film Hollywood pun mengalami perubahan yang cukup besar dengan bantuan teknologi perfilmannya. Hollywood telah melalui beberapa tahap perkembangan hingga akhirnya sampai pada era film modern dan postmodern, hingga pada pertengahan tahun 70an film Amerika berada pada dekade film yang menampilkan spectaculer special effect, seperti blockbusters Star Wars (1977), Superman (1978) dan Raiders of the lost Ark (1981).

Amerika dikenal sangat menyenangi film yang bertemakan konflik makhluk asing, kosnpirasi manusia dengan setan, tales, bencana, nostalgia masa lalu ataupun masa depan. (www.digitalhistory.com).

 2012 sendiri tergolong pada film fiksi ilmiah yang mengambil bentuk sebagai film bencana alam (disaster movie). Science fiction sendiri (Sci-fi) menurut Tim Dirks adalah sebagai berikut:
 “Sci-fi films are often quasi-scientific, visionary and imaginative - complete with heroes, aliens, distant planets, impossible quests, improbable settings, fantastic places, great dark and shadowy villains, futuristic technology, unknown and unknowable forces, and extraordinary monsters ('things or creatures from space'), either created by mad scientists or by nuclear havoc. They are sometimes an offshoot of fantasy films, or they share some similarities with action/adventure films. Science fiction often expresses the potential of technology to destroy humankind and easily overlaps with horror films, particularly when technology or alien life forms become malevolent, as in the "Atomic Age" of sci-fi films in the 1950s”. (www.filmsite.org)

Tema ini sangat diminati Hollywood. pada tahun 2009 saja terdapat 22 film science fiction yang dilepas ke pasaran. Namun film 2012, memiliki keistimewaan sendiri dibanding science fiction lainnya. Film ini memanfaatkan isu ramalan kalender kuno suku mayan di Mexico, yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. namun baru di angkat kembali beberapa tahun terakhir.

Untuk menyukseskan film ini produsen juga telah memperhitungkan jauh hari. Pemasaran film ini telah dilaksanakan sejak 12 November 2008 ke pasar televisi dunia. Pertama kali muncul berupa thriller yang berdurasi 1 menit yang memperlihatkan kehancuran tempat ibadah agama besar dan runtuhnya simbol peradaban manusia di muka bumi. (www.wikipedia.com, 2012, Film)

Dalam film seperti ini, teknologi adalah kunci kendali dalam menciptakan penyempurnaan visual (gambar) film. Penyempurnaan segala hal melalui teknologi, sehingga melampaui kondisi aslinya ini disebut sebagai Simulasi (Piliang, 2004:155). Seperti yang diungkapkan Baudrillard, bahwa dengan kemampuan menciptakan apapun menjadi realitas, maka kemungkinan imajiner, ilusi, semua lenyap. dan dunia tanpa ilusi adalah dunia cabul, material, eksak, sempurna (perfect). (Piliang, 2004:155). Kesempurnaan ini yang membuat matinya kenyataan.

“Tubuh disempurnakan (Lewat operasi plastik atau body building) yang menggiring tubuh pada kematian tubuh itu sendiri. Seks disempurnakan (lewat komputerisasi seksual dan teledildonic) yang menggiring pada kematian seksual itu sendiri. Musik disempurnakan (lewat special effect dan synthesizer) yang menggiring pada kematian musik (asli) itu sendiri. penyempurnaan telah menggiring berbagai hal menuju kematian dirinya sendiri” (Piliang, 2004:156)

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Postrealitas (2004) mengungkapkan bahwa berbagai bentuk mimpi, fantasi, dongeng, fiksi, imajinasi, halusinasi, yang dulu bukan merupakan bagian dari realitas, kini dapat menjadi realitas melalui teknologi. Segala sesuatu dimaterialisasikan atau direalisasikan sedemikian rupa, sampai pada satu titik yang menggiring pada kematian realitas itu sendiri, karena apapun dapat memakai pakaian realitas. (Piliang, 2004:155).

Kemudian, mengapa masyarakat Indonesia begitu antusias dengan film bencana? salah satu jawabannya bisa saja di sebabkan oleh kekhawatiran masyarakat atas bencana alam yang intensitasnya makin meninggi beberapa waktu terakhir. Indonesia merupakan zona ring of fire atau wilayah cincin api pasifik, yang ditandai dengan gugusan gunung berapi aktif disepanjang kepulauan Sumatera, Jawa, sebagian Sulawesi dan Iran Jaya. 


Indonesia juga memiliki potensi gempa yang cukup tinggi, sebab posisi geografis Indonesia yang berada diantara empat lempeng aktif (lempeng Pasifik, lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Filipina).  Tidak itu saja. terletak di antara dua benua (Asia-Australia) dan dua samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik) yang membuat Indonesia merasakan langsung dampak badai el nino yang berakibat perubahan cuaca ekstrim (www.beritaindonesia.com.id).

Hal ini didukung dengan kondisi 6 tahun terakhir, Indonesia sangat disibukan dengan bencana alam, yang melanda Sabang hingga Merauke. Sebagian realitas ”kiamat 2012” dialami sebagian masyarakat Indonesia. Dimulai dari tsunami Aceh (2004) hingga yang paling baru gempa bumi 7,9SR di Sumatera Barat (2009). Gempa Sumbar, yang terjadi 43 hari sebelum launching film 2012, membuat masyarakat Sumbar sangat tertarik untuk menonton film simulasi bencana ini. Namun sayangnya, warga pasca bencana Sumbar tidak dapat langsung ke bioskop saat launching perdana film 2012 pada 13 November 2009, sebab tidak ada lagi satupun bioskop yang utuh.

Mereka akhirnya memilih untuk menunggu film dalam bentuk DVD setelah beberapa minggu penayangan. Gempa Sumatera Barat merupakan gempa terbesar di Indonesia, namun tidak menimbulkan tsunami dikarenakan posisi tumbukan lempeng bumi berada jauh di dasar Samudera Hindia. Gempa ini menewaskan 1.117 jiwa, menimbun 389 orang, dan melukai 1.987 orang. ratusan ribu bangunan hancur total dan sebagian rusak berat (www.pemprovsumbar.go.id)

Lepas dari hal-hal tersebut, kemudian muncul pertanyaan, apakah yang sesungguhnya diharapkan para penonton ini dari film 2012?, terutama bagi mereka yang telah mengalami bencana alam dahsyat, seperti masyarakat Sumatera Barat ini?. Kemudian, setelah menonton, pengalaman apa yang ditemukan dalam ruang virtual film tersbut?.

Apakah disadari bahwa film, merupakan kotak simulasi realitas yang merupakan produk Postmodern seperti halnya televisi, yang sering menggunakan hiper-visual untuk menggambarkan sebuah fenomena?. Apakah penonton menyadari bahwa mereka berada dalam ruang simulasi yang tidak berbatas langsung dengan kesadaran realitas mereka?. Seperti apa mereka memaknai film ini?, Tentunya dengan mengkomparasi teks visual film kedalam pengalaman realitas mereka. Apakah tanda “melampaui” yang di sajikan dalam bentuk visual film dapat dipahami sebagai hal yang bersifat fantasi atau malah sebaliknya.
(bersambung)

4 komentar:

Asep mengatakan...

unfinished? maksudnya belum selesai diuji ato gimana mbak? mau saya jadikan referensi rencananya, kalo udah selesai, bisa saya minta link resmi tesis yg mba punya dari universitas mana? trims sebelumnya

Anonim mengatakan...

I know this if off topic but I'm looking into starting my own blog and was wondering what all is required to get setup? I'm assuming having a blog like yours would cost a pretty penny?
I'm not very web savvy so I'm not 100% sure. Any suggestions or advice would be greatly appreciated. Many thanks

My weblog - cheap christian louboutin shoes

Anonim mengatakan...

I know this if off topic but I'm looking into starting my own blog and was wondering what all is required to get setup? I'm assuming having a blog
like yours would cost a pretty penny? I'm not very internet savvy so I'm not 100% sure. Any recommendations or advice would be greatly appreciated. Many thanks

Take a look at my weblog ... Adidas Wings

Anonim mengatakan...

Ι know this websitе proνiԁes qualіty based content and
аdditionаl dаta, is therе аny otheг web page which ρresents thesе
information in quаlіty?

Review my web ѕіtе diamondlinks review