Pages Categories

10 April 2011

(Televisi dan Anak) Dari The Battle Royale Hingga Tragedi Virginia Tech

“Matikan TV anda bila tidak ingin anda yang dimatikan TV anda”. Ungkapan ini bukan sebuah usaha provokatif untuk mensabotase perkembangan dunia teknologi dan media massa. Namun sekedar untuk memberikan bayangan yang lebih nyata bagi para orang tua dan khususnya bagi produsen informasi massa untuk lebih waspada saat memproduksi pesan kapitalis yang akan mereka lempar ke ruang publik.



Anda tentu ingat dengan film produksi Jepang yang berjudul The Battle Royale? Film ini meledak di seluruh bioskop dunia pada tahun 2000 lalu. The battle royale mendadak populer dan sang sutradara Kinji Fukasaku  berhasil membawa film ini untuk meraih berbagai nominasi dalam Japanese Academy Award pada tahun 2001. Namun kepopuleran tersebut menuai banyak kontroversi, karena isi film yang sangat tidak mendidik dan bermuatan kekerasan dalam bentuk yang sangat ekstrem.

“Have you ever killed your best friend?”. Membaca tagline dan melihat cuplikan thriller film ini sepintas dapat diprediksi bahwa ini bukan tontonan anak-anak, walaupun pada akhirnya film ini paling banyak di tonton oleh anak-anak dan remaja di seluruh dunia.

Film ini menceritakan tentang survival program yang di rancang pemerintah Jepang yang ditujukan untuk “menyingkirkan” anak muda yang memberontak dan selalu melawan otoritas, termasuk orang tua mereka sendiri dan sistem pendidikan di Jepang.

Film ini bersetting tentang kegagalan Jepang sebagai negara, yang menjadi penyebab kekacauan ini terjadi. Untuk mengatasinya, pemerintah Jepang atas izin orang tua dan bantun militer, melegalisasi program “The Millenia Educational Act” yang merupakan kebijakan pendidikan Jepang untuk mengatasi kekacauan yang disebabkan oleh para remaja ini, yang berasal dari sekolah-sekolah menengah di seluruh Jepang.

Namun program ini bukanlah program biasa. Program ini dimulai dengan mengumpulkan 40 orang siswa nakal di sebuah pulau terpencil. Di pulau ini mereka diwajibkan untuk membunuh satu sama lain hingga menyisakan satu orang yang mampu survive dan menjadi pemenang dalam program The Battle Royale.

Masing masing siswa dilengkapi dengan senjata yang digunakan untuk bertahan dan membunuh teman-teman yang sekaligus lawan mereka. Tiap orang akan dipasang bom di leher mereka, dan akan meledak dalam 3 hari bila tidak ada satu siswa yang tetap hidup dan menjadi pemenang. Bom ini juga akan meledak bila siswa memasuki daerah berbahaya yang ada di dalam pulau.

Setiap detiknya mereka akan terancam dalam pembunuhan oleh rekan mereka sendiri, dan setiap adegan yang ditampilkan dalam film ini adalah tindakan sadisme yang brutal. Lebih memiriskan saat adegan sadis tersebut dibalut dengan lelucon dan joke yang membuat film ini semakin tidak mendidik.

Film ini belakangan diketahui sebagai bentuk representasi pengalaman pahit sang sutradara terhadap masa lalunya waktu perang dunia II, saat kelas mereka ditembak membabi buta oleh prajurit bersenjata, dan mereka harus bermandikan darah saaat membereskan mayat teman-teman mereka.



Namun efek nyatanaya dalam ruang publik baru mencuat saat media memberitakan kasus Nevada Tan, seorang gadis Jepang berusia 11 tahun yang membunuh teman sekelasnya, Satomi Mitirai. Tan diketahui penggemar berat The Battle Royale, baik dalam bentuk film, komik, novel, game dan mengikuti semua sekuel The Battle Royale. 


Selaian film ini, sejarah Jepang juga pernah mencatat seorang bocah berusia 13 tahun yang membunuh gurunya dengan sebuah pisau lipat. Ia adalah penggemar berat film drama Gift yang ditayangkan TV Jepang, dimana karakter dalam tayangan ini selalu digambarkan dengan pisau lipatnya. Bentuk ini tentunya sangat ekstreem, namun nyata. Masa tersebut merupakan masa kebebasan siaran TV, Film dan berbagai bentuk drama kekerasan beredar di Jepang, yang kemudian makin mendorong pemerintahnya untuk lebih waspada terhadap konstruksi cerita kekerasan dalam media massa.

Kasus di Indonesia
Bagaimana dengan di Indoneisa? Masih segar juga dalam ingatan kita tentang aksi kekerasan yang dilakukan anak-anak setelah menonton ataupun memainkan video game Smack Down beberapa waktu lalu. Prilaku agresif ini merupakan regulasi awal bagi para orang tua dan pemerintah, untuk lebih waspada terhadap kebutuhan tayangan bermanfaat sebagai tontonan anak,  agar kasus Nevada Tan tidak terjadi juga di Indonesia. Pada waktu itu pemerintah menanggapi dengan cukup arif karena kemudian melarang tontonan olahraga kekerasan yang direkayasa ini beredar di semua televisi Indonesia (walaupun dalam bentuk Game masih dapat dijumpai).



Pertanyaannya adalah apakah hal ini cukup? Sebab prilaku agresif anak terkait dengan tayangan kekerasan di televisi masih tetap berlangsung dalam bentuk yang cukup ekstrem.  Seorang guru TK pernah menanyai seorang muridnya karena memukul teman sebangkunya dengan sebuah palu kayu mainan yang menjadi alat praga di kelasnya. Pukulan ini membuat temannya itu harus mendapat beberapa jahitan di kepala.

Saat ditanya tentang sikap penyerangannya tersebut, si anak tidak menganggap hal itu sebagai sebuah tindak kejahatan, sebab ia mengaku hanya menirukan aksi Tom and Jerry yang sering dilihatnya di Televisi. Menurutnya, temannya tidak akan terluka dengan pukulan tersebut, karena setiap aksi serupa yang dilakukan Tom dan Jerry tidak pernah saling melukai satu sama lain. Untuk orang dewasa hal ini sangat tidak logis, namun dalam fikiran anak-anak hal inilah yang menjadi interpretasi aksi agresif dalam sebuah tayangan kartun. Ini hanya sebagian contoh kecil yang dapat dipelajari dilingkungan kita sehari-hari, disamping banyak efek kekerasan media lainnya yang tidak terpublikasi oleh media.

Kontroversi kekerasan Media
Efek tayangan kekerasan di media mulai menjadi sorotan sejak larangan penayangan film “The James Boys  In Missouri” di bioskop pada tahun 1909. Polisi Chicago pada masa itu menganggap film ini berpotensi untuk membentuk prilaku kriminal didiri penonton remaja. Sejak saat ini kontroversi dimulai terutama sejak peningkatan popularitas film (1920) dan  perkembangan Televisi (1950). Banyak ahli yang kemudian melakukan penelitian terkait dengan prilaku agresif dan tidak bersahabat yang ditimbulkan setelah pesan kekerasan masuk dalam diri satu individu, khususnya anak. Penelitian yang dilakukan dengan metode eksprimen tersebut semuanya merujuk pada satu hasil serupa.

Tesisnya adalah bahwa anak-anak akan menunjukan prilaku agresif, bermusuhan dan menyakiti orang lain setelah diperlihatkan tontonan yang berisi adegan kekerasan. Hal ini didukung oleh survey mengejutkan yang dilakukan Philipe dan Centerwall (mulai tahun 1979-1989) yang menunjukan pembunuhan nasional di Amerika Serikat meningkat 2 kali lipat akibat isi pesan media yang berbau kekerasan. Survey lainnyapun menunjukan hal yang sama. Huesmann dan Eron (1986) meneliti anak berusia 8 tahun dan melakukan pemantauan terus menerus hingga mereka berusia 30 tahun.

Mereka menemukan bahwa anak yang masa kecilnya sering melihat adegan kekerasan di televisi memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam kejahatan berat ketika mereka dewasa. Kesimpulan dasarnya bahwa kebiasaan agresif dapat terlihat dan dipelajari dari kehidupan awal (umur muda) dan sekali terbangun, sulit berubah dan diprediksi akan menjadi kelakuan antisosial ketika nanti dia dewasa.


Antisosial dan brutal dapat dicontohkan pada kasus penembakan di Virginia Tech University yang dilakukan Cho Seung Hui, seorang imigran Korea Selatan yang menewaskan 33 orang. Cho berimigrasi ke Amerka sejak berusia 8 tahun dan hidup dalam kondisi kemiskinan. Ia sangat antisosial, dan belakangan diketahui sebagai seorang psikopat.

Ketika polisi menyelidiki kamar Cho, mereka menemukan sebuah catatan yang melukiskan betapa hidupnya sangat menderita dan berencana untuk bunuh diri. Dalam sebuah catatan yang ditinggalkannya di pintu kamar asramanya, ia menguraikan daftar keluhannya, ia mengecam "anak-anak kaya", "pembual" yang "jahat" dan "penipu" di kampus itu. Kalimat lainnya dalam catatan itu berbunyi "kalian yang membuat aku melakukan semua ini".

Terlepas dari apapun motif yang menjadi tekanan Cho, ia diketahui sebagai penggemar berat game game kekerasan, terutama Counter Strike. Ia sangat terlatih untuk memainkan game ini, yang berisikan aksi tembak menembak. Hal ini juga yang membuat Cho mampu dengan tenang menembaki ke 33 siswa dan dosen di kampusnya, karena merasa telah biasa, sama seperti berada dalam game yang sering dimainkannya tersebut. 


Perlu Kewaspadaan
            Sekarang siapa yang harusnya waspada terhadap efek kekerasan di media massa ini?. Pesatnya teknologi informasi membuat batasan media untuk tidak menayangkan prilaku kekerasan semakin sulit di terapkan. Kekerasan saat ini tidak hanya berada di Film, sinetron, ataupun film kartun impor. Namun juga dalam produk jurnalistik seperti berita, yang sejatinya bisa dinikmati dengan aman oleh semua umur.

Namun pada kenyataannya di Indonesia, berita kekerasan mendominasi wajah media Indonesia. Belum sensasional bila belum ada yang mati, berdarah atau terluka. Apa efeknya? Seperti yang di ungkapkan para peneliti terdahulu, yaitu peniruan dan agresifitas. Bila diperhatikan dengan cermat, terdapat pola peniruan kekerasan yang merupakan adaptasi berita kekerasan di media. Satu penjahat memutilasi, beruntun pula kasus mutilasi dijumpai. Satu istri bunuh suami, menyusul istri-istri lainnya melakukan hal serupa. Dan seterusnya. Gambaran ini makin luas bila kita teliti dari aspek kekerasan lainnya. Kekerasan psikis, fisik, seksual, biologis, gender dan kekerasan lainnya. 
Semua orang harus waspada. Bila tidak jeli, TV bisa mematikan. Media mampu merekonstruksi budaya kekerasan dalam bentuk yang sangat “cantik” sehingga kita sebagai penonton merasakan halusinasi yang tidak nyata bahwa hal yang ditampilkan adalah bentuk kekerasan yang merangsang agresifitas dan kebrutalan. Dan lebih parah lagi bila hal seperti ini yang menemani tumbuh dan berkembangnya anak-anak kita menuju kedewasaan.

Sudah saatnya kita membebaskan anak-anak kita dari visualisasi budaya halusisnasi ke budaya realitas dan realistis. Sudah saatnya kembali membiasakan anak-anak kita bergembira bermain bola dengan nyata di lapangan bola, bukan bermain bola di dalam ruang virtual Game station di sebuah kotak Video dengan judul “winning eleven”. Pilihan tentunya ada di tangan anda.

Pelaku mediapun diharapkan tidak terlalu jauh terseret dalam dilema kapitalis, dan tetap berpegang pada porsi idealis yang seimbang. Selanjutnya tinggal PR pemerintah dengan mengatur regulasi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap tayangan impor yang cukup meresahkan akhir akhir ini. Semoga akan terbentuk generasi bermoral dan beradab di masa akan datang.***



Ling Woo Dalam Konteks Historis

Kajian Media dan Minoritas
Ling Woo Dalam Konteks Historis
Wajah Baru Stereotype Asian-American di Televisi


Dalam media kontemporer, representasi Asia Amerika masih terbilang jarang.  Walaupun mereka meliputi 3,6% populasi di Amerika, hanya 0,8% karakter Asia Amerika di TV pada periode 1991-1992 dan 1,3% di tahun 1994-1997, dan mayoritas peran yang ditampilkan adalah sebagai peran pelengkap. Pada tahun 2000-2001 karakter Asia-Amerika mulai meningkat, namun underrepresentasi dan stereotype tetap berlaku.

Peran ini mulai terlihat saat Lucy Liu menjadi bintang orang Asia Amerika yang paling menyita perhatian publik saat ia berperan sebagai Ling Woo seorang pengacara keturunan Cina Amerika dalam serial Ally McBeal. Ia juga memasuki layar lebar sebagai salah satu tokoh sentral dalam film Charlie’s Angel.


Bila melihat penampilan Lucy Liu dalam film Payback dan Charlie’s Angel, kita dapat melihat karakter Ling Woo yang diperankannya. Karakter Ling adalah wanita asia yang kuat, berbicara dengan terbuka, memiliki pendapat sendiri dan terbuka terhadap seksualitasnya. Hal ini tidak seperti karakter wanita Asia yang baru datang di Amerika yang umumnya hanya sedikit berbicara, terutama dalam bahasa Inggris.

Ling memiliki artikulasi yang baik dalam peranyya sebagai seorang pengacara. Dan yang paling penting tokoh Ling menghancurkan stereotype “boneka keramik cina” terhadap para perempuan asia yang bersikap tunduk, lemah dan tenang/tidak banyak bicara. Ia menampilkan kecantikan perempuan asia, yang tidak berambut pirang dan  bermata biru seperti standar kecantikan kulit putih.

Karakter ini kemudian menimbulakn pertanyaan, apakah Ling benar-benar telah mematahkan stereotype tersebut atau sesungguhnya justru menguatkan mereka?  Untuk menjawab pertanyaan ini, Elaine Kim menekankan bahwa "kita harus menempatkan Ling dalam konteks sejarah, sedikitnya 100 tahun tentang sejarah sexualisasi wanita-wanita orang asia”.

Historis
Dalam rentang tahun 1840 hingga 1930an, banyak imigran yang berasal dari Cina, Jepang, Korea, Filiphin, dan India datang ke Amerika dan menjadi pekerja-pekerja murah. Hukum keimigrasian pada masa itu memperkejakan mereka dengan sementara, dapat diperjualbelikan dan dieksploiatasi, dan melarang masuknya keluarga mereka yang berasal dari Asia karena ditakutkan akan terjadi pertumbuhan yang permanen.

Resesi ekonomi kemudian menggerakan perlawanan terhadap imigran Asia. Kongres meluluskan aksi Eksklusi terhadap orang Cina pada tahun 1882, dan pada tahun 1924 menghalangi semua orang dari Asia untuk berimigrasi ke Amerika.

Sejarah imigrasi tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa Pria Asia Amerika terlihat hingga saat ini menyimpang secara seksual, bertentangan, baik aseksual ataupun menjadi ancaman perkosaan bagi perempuan berkulit putih. Pra perang dunia II, pria asia amerika membentuk kekuatan untuk membentuk “bachelor societies” karena ketidak tersediaan perempuan dari ras mereka. Hukum anti pernikahan antar suku bangsa melarang mereka untuk menikah dengan perempuan kulit putih.

Pria cina dianggap sebagai ancaman dan memiliki ketidak disiplinan dan libido yang berbahaya. Media menjadi “piranti ideologis negara” untuk menguatkan hegemoni dan mengabadikan stereotype pria Asia Amerika dan mengaburkan kenyataan sejarah yang mencegah banyak pria Asia Amerika untuk memiliki keluarga dan terikat pernikahan sebelum perang dunia ke II. 


Dalam menampilkan pria asia amerika sebagai “orang kasim”  media membantu pandanagan masyarakat serta budaya penindasan yang tidak terlihat. Secara klise, pengkebirian stereotypes dengan memasukan karakter Charlie Chan dan Fu Manchu, sebagai lambang yang sangat berpengaruh luas selama hampir separuh abad. Karakter detektif Charlie Chan, dikembangkan novelis Earl Derr Biggers pada tahun 1925-1932 dan menjadi film di televisi pada tahun 1981.

Pelemahan pria asia amerika berlangsung hingga saat ini dalam bentuk “anak remaja Asia Amerika yang jenius dalam matematika dan brilian sebagai ilmuan bagi mereka yang menggunakanbahasa inggris”. Kung Fu selalu dimainkan oleh aktor cina seperti Jet Lee dan Jacky Chan, dapat melakukan berbagai tendangan, tapi hampir tidak pernah memerankan peran yang penuh kasih dan romantis.

Namun stereotype perempuan Asia Amerika justru berbeda. Bila pria digambarkan aseksual, anak perempuannya digambarkan sebagai hyperseksual. Hal ini berakar dari praktek-praktek imigrasi. Saat pria asia amerika tidak diizinkan untuk menikah dan membentuk keluarga, mereka mencari penyaluran seksual dari rumah pelacuran. Diperkirakan pada tahun 1870, 61% dari 3.536 perempuan cina di California menjadi pelacur.

Stereotype perempuan asia sebagai hyper seks kemudian dalam buday populer semakin diperkuat oleh militer AS yang ditempatkan dibeberpa negara asia. Mereka semakin mengembangkan persepsi perempuan asia sebagai pelacur, bargirls dan geisha. Hal ini banyak ditemui dalam penggambaran film perang Asia di masa kini. karena itu, pria asia amerika yang aseksual dan perempuan asia amerika yang hyperseksual berfungsi untuk menekankan kekuatan dan keunggulan orang orang kulit putih.

Budaya pop amerika secara umum berpusat pada dominasi pria, dan perempuan asia amerika tidak terlalu terlihat dibandingkan pria asia amerika. Aktor perempuan Asia amerika memainkan peran yang sempit. Contoh type yang dirangkum dalam perannya terdiri dari beberpa type:

type the lotus blossom baby digambarkan sebagai china doll, geisha girl, kecantikan polynesian/pemalu, feminin, pendamping,  dan sebagai seksual romantic object.
type dragon lady digambarkan sebagai perempuan yang licik, kejam, jahat, pelacur, germo, dan setan.

Peran ini dimainkan Anna May Wong dalam Thief Of Baghdad (1924). Namun kedua peran lotus dan dragon sama-sama sebagai hyperseksual, namun blossom tunduk dan pasif dan dragon sebagai sosok agresif yang membawa bahaya.

Tajima (1989) memberikan dua poin perbedaan antara hubungan karakter perempuan asia amerika dalam budaya populer dengan orang kulit putih dan dengan orang yang berasal dari ras mereka. Ia menyatakan bahwa sangat jarang ditampilkan hubungan percintaan antar perempuan dan pria asia amerika di depan layar, apalagi dengan perempuan kulit putih, sebab dapat memecahkan hegemoni pria kulit putih. 

Dalam bentuk lain memasangkan pria kulit pitih dengan perempuan oriental adalah alamiah dan merupakan akal kolonialisme, bentuk dari “pengamanan” naratif. Dominasi barat dalam narasi romantisme dan seksualitas kemudian membenarkan harta pria kulit putih adalah tubuh perempuan kulit berwarna. Hubungan romantisme antara pria kulit putih dengan perempuan asia selalu berbeda dan tergantung dengan penuh pada pengabdian dan penundukan, jiwa dan raga.

Madame Butterfly merupakan simbol feminitas oriental. Cerita ini tentang Pinkerton pegawai stasiun kelautan di nagasaki yang terlibat percintaan dengan pelacur lokal cho-cho san dan memiliki anak. Pinkerton kembali ke AS dan menikah dengan wanita kulit putih. Ia kemudian kembali ke Jepang dengan istrinya untuk mengambil anaknya dan menamabah penderitaan cho-cho san. Karena patah hati ia memutuskan untuk bunuh diri. Karakter ini banyak muncul dalam berbagai film Jepang lainnya.



Madame butterfly menyimbolkan dan membenarkan penundukan oleh dominasi patriakhi barat dalam membentuk sifat rendah diri yang dinetralkan, dedikasi tanpa pamrih dan pengorbanan
.
Ally Mc Beal
Serial Ally Mcbeal dan tokoh Ally yang dimainkan oleh Calista Flockhart, menempatkan ia sebagai bentuk postfeminist. Serial ini dipenuhi dengan tokoh pengacara muda dalam sebuah firma hukum disekitar Ally, dimana para mitra dan rekan kerja mereka membicarakan seks lebih dari pekerjaan. Pada tahun 1999 penonton serial ini mencapai 14,8 juta penonton.

Mereka dibagi melalui kritik sebagai penyuka dan tidak suka terhadap serial ini. Bellafante (1998) mengungkapkan Ally McBeal merepresentasikan “segala sesuatu tentang aku” bentuk dari feminisme. Bila tahun 60 hingga 70an feminisme sangat terpengaruh dengan perubahan sosial , maka femisnis masa sekarang meningkat pada kultur kemasyuran/celebrity dan obsesi diri.  

Shalit (1998)menyebut Ally Mc Beal sebagai “do-me feminist” yaitu berani, menarik dan mengairahkan. Ia mewaspadai hal yang muncul dari ras, kelas, dan gender, dan mengetahui bahwa feminisme aman untuk wanita-wanita yang mencintai dan bermandikan busa dan memiliki perlengkapan-perlengkapan perempuan, bahwa ideologi yang benar dan seks terbaik bukanlah saling mengeksklusifkan.

Ia menyadari dirinya cerdas, dan ambisius seperti pria, tapi teetap bangga menjadi anak perempuan yang girlish. Serial ini menggambarkan kehidupan nyata wanita yang bekerja , menginginkan kebebasan seksual, dan persamaan gender. Kebanyakan film mengangkat karakter perempuan dari pandangan maskulin, namun serial Ally justru sebaliknya.

Diluar perdebatan tentang isu gender, dalam serial ini juga dapat terlihat dimensi rasial dalam karakter Ling Woo yang berdiri diluar konteks kecantikan umum wanita blonde, tidak hanya melalui penampilannya, tapi juga dari caranya memunculkan suatu sejarah simbolis baru terhadap perempuan Asia Amerika.

Ling digambarkan sebagai perempuan asia amerika yang kuat, tidak sopan, agresif, berlidah tajam, dan manipulatif. Ia menghancurkan stereotype ‘China doll”, dia tidak pamrih dan tidak tunduk. Ia lebih seperti naga perempuan, dengan geraman-geraman seperti binatang, mengelurkan nafas api pada Ally, dan berjalan di kantornya dengan musik Witchked Witch of the west in the wizard of oz. namun yang membuat berbeda adalah pembentukan aura seksual yang sangat berbeda di sekitarnya. Pada kenyataannya produser serial ini david kelly, membangun karakter khusus untuk Lucy Liu setelah tidak berhasil memerankan peran Nell. Ling juga seksualized dan objektif terhadap dirinya sendiri. Hampir semua karakter dalam film ini sex-hungry, Ling tetap berada di luar kekusutan pilihan seksual.



Dalam saah satu adegan Ling mencium Ally sebgai scene godaan lesbian.  Konsisten dengan representasi perempuan Asia Amerika, Ling tidak pernah digambarkan menjalin hubungan dengan  pria Asia berkulit kuning, ia memiliki hubungan dnegan pria kulit putih, dan juga kulit hitam. Dalam hal ini sejarah Hollywood tetap mengkebiri pria asia amerika dan menetapkan stereotype hypersexual terhadap perempuan asia amerika, yang juga hidup dalam Ally McBeal.
Kontroversi yang muncul adalah kemampuan karakter ini mendobrak stereotype tunduk dan diam yang dimiliki perempuan asia amerika. Namun melihat resiko lebih jauh melalui studi komprehensif karakter asia amerika di TV menyebut Ling sebagai “figur fantasi masturbasi oriental”.

Helen Liu, konsultan media Asia Amerika mengungkapkan bahwa orang memandang Ling bukan sebagai pusat kekuasaan namun karena kualitas stereotypenya. Walaupun menjadi problematic, komentar-komentar sentimen mengungkapkan bahwa hal ini lebih baik dari pada tidak sama sekali, hal ini jauh lebih baik dan Ling manjadi malaikat asia Amerika, yang tidak dapat terjadi pada tahun 70an.

Hal ini berbeda bila membaca karakter Ling yang menunjukkan sifat polysemic dari teks media (Fiske,1986) seperti juga perbedaan tingkat pengetahuan sekitar konteks sejarah dalam membaca penyajian orang asia amerika. pesan dari karakter "tergantung sebagian besar pada apa yang penonton bawa sat menonton" dan bahwa pendengar membuat dan memberi hambatan sekali pun mereka seorang penggemar (Jenkins,1995).

Riset sangat dibutuhkan untuk dapat menjadi jembatan pengujian penyajian orang asia amerika dengan satu analisa tentang bagaimana penyajian tersebut benar-benar mempengaruhi kelompok orang asia ataupun rasial lain. wawancara-wawancara Etnographic dan kelompok-kelompok kecil akan menjadi sanngat bermanfaat dalam menyelidiki ketegangan antara hegemony media dan otonomi penonton.


Psikoanalisa, Sexual Addiction Disorder, Metafora dan Dinamika Hubungan Antar Tokoh Dalam Film “Love At The Time Of Cholera” (PART3/3)


Pembahasan

III.1. Psikoanalisa Karakter Film“Love at time of Cholera”
Dunia real dipahami sebagai sebuah kondisi dimana tidak ada kehilangan dan ketiadaan, tidak ada kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi. Yang Real adalah suatu alam yang tak pernah dapat digambarkan karena sejak manusia dilempar kedunia dan merasakan ide tentang “diri” dan “liyan” kondisi ini tidak pernah dapat direngkuhnya kembali”. Momen kehilangan merupakan titik awal dimana bayi memiliki kesadaran ‘diri’ dan ‘liyan’, antara dia sebagai oknum utuh yang berdiri sendiri dan liyan yang juga adalah oknum lain yang mandiri. Kehilangan melahirkan kecemasan. Inilah yang memaksanya  melihat dirinya sebagai satu individu lain yang utuh dan berbeda.
Lacan menjelaskan tentang fase cermin yang penting dimana bayi melihat pada pantulan cermin bahwa dia adalah kesatuan tersendiri yang berbeda sekaligus sama dengan orang lain. Saat bayi menyebut citraan itu sebagai” Aku” saat itulah ia  masuk ke dalam struktur tatanan simbolik yang memliki aturan-aturan yang harus dipatuhinya seumur hidup”.  Tetapi citra dalam cermin yang disebutnya “Aku” bukanlah dirinya yang sesungguhnya melainkan struktur imajiner yang mau tidak mau diakuinya sebagi identitas dirinya. Alasanya sangat sederhana, karena individu membutuhkan organisasi diri yang mapan sebagai modal menempuh kehidupan dan membedakan dirinya dengan orang lain. Lacan menyebutkan bahwa citra dicermin itu adalah liyan.
Yang juga termasuk liyan, menurut Lacan, adalah ide tentang diri kita atau, dalam kasus bayi, ide tentang diri bayi itu sendiri. Dengan demikian maka bayi mengenal dirinya melalui liyan yang adalah citra yang muncul pada cermin. Factor penting yang mendorong bayi mau tidak mau mengakui citraan imajiner itu sebagi dirinya adalah hasarat untk memiliki identitas. Itulah sebanya Lacan tidak melihat identitas sebagai ”Identity” yaitu sesuatu yang mapan, utuh, dan tidak retak. Tetapi ia menyebutnya “I-dentity”, aku dan identitas. Inilah yang disebut dengan tahap permintaan akan identitas yang imajiner.
            film ini melalui fase yang disebut Lacan sebagai tahap Real dan Imajiner tersebut. sorotan khusus dapat lakukan pada tokoh Florentino, yang merupakan tokoh sentral dalam film love at time of cholera. Florentino adalah pribadi yang nyaman dalam hidup dan kuasanya sendiri hingga akhirnya bertemu dengan Liyan (others). hal ini dikonotasikan dengan sosok perempuan lain selain ibunya, yang kemudian merusak tatanan dirinya menjadi fase-fase pengembangan pribadi yang lebih jauh. bertemu dengan sesuatu yang lain selain diri dan ibunya membuat florentino mengidentifikasi diri dengan objek lain tersebut. ia kemudian menemukan berbagai hal yang menjadi cermin diri dan kemudian menimbulkan Hasrat.  hasrat ini kemudian menjadi suatu kekuatan untuk menjadi “sesuatu” dan berusaha menguasai tatanan simbolik, hukum sang ayah dan Phallus.
 “Ketundukan pada aturan-aturan bahasa itu-Hukum Sang Ayah- diperlukan untuk memasuki tatanan symbolic. Kebutuhan akan rasa aman dan nyaman social dipenuhi oleh identifikasi dirinya dengan struktur social yang lebih luas.  Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor kesamaan antara dirinya dan lingkungan sosialnya. Masuknya individu kedalam sebuah kelompok pertama-tama diinterpelasi oleh hukum dan aturan bahasa yang harus dipatuhinya untuk memenuhi hasrat menjadi pusat tatanan symbolic.”

Proses identifikasi dalam diri florentino terus berlanjut saat interaksi dengan lingkungannnya di perluas. setelah mengidentifikasi diri dengan tokoh pengganti ibu, ia juga mengidentifikasi diri dengan tokoh disekitar objek pengganti tersebut. dalam kelanjutannya setiap proses mengidentifikasi selalu memunculkan hasrat. indentifikasi pertama adalah terhadap Dr Urbino, yang menjadi saingannnya dalam kehidupan percintaan. Ia mengidentifikasi Urbino sebagai sosok laki-laki ideal yang berbeda jauh darinya. kesuksesan Urbino kemudian menimbulkan hasrat dirinya untuk turut berhasil dalam kehidupan sosial dan ekonomi. ia kemudiamn mencari identifikasi terdekat dari tatanan sosialnya, yaitu tokoh paman (karena ia tak mengenal tokoh ayah). Sang paman menjadi objek identifikasi kedua, dan merasa ingin menjadi seperti sang pamkan. ia kemudian berusaha mewujudkannya dengan bekerja dengan sang paman hingga akhirnya mencapai kematangan secara finansial dan emosional.
Hasrat untuk menjadi bekerja dalam bentuk identifikasi. Dari paparan ini seolah-olah tampak bahwa hasrat merupakan daya dorong munculnya identifikasi. Dengan kata lain identifikasi adalah akibat dari hasrat. Akan tetapi Lacan menjelaskan bahwa identifikasi juga dapat menjadi sebab dari hasrat. Jadi, hasrat untuk menjadi obyek rasa kagum dipicu juga oleh kerja-kerja modus identifikasi.
Hal menarik dalam perkembangan cerita film ini adalah berbagai dinamika hubungan antar tokoh yang akhirnya mengantar masing-masing tokoh menjadi dewasa dan matang dengan cara masing-masing. Florentino adalah tokoh yang dekat dengan ibu dan mengalami Oedipus complex hingga sang ibu meninggal. baginya sentral diri adalah ibu. berbeda dengan Fermina yang justru hanya memiliki ayah, dan menjadi sumber aturan subjektif terhadap kebebasan diri.

Hasrat
Film ini dapat dikatakan penuh dengan hasrat. bukan saja hasrat manusiawi, tetapi lebih kepada hasrat untuk menjadi dan identifikasi. proses pemenuhan hasrat ini kemudian menjadi sangat kompleks dengan konflik yang terjadi baik dilevel diri, sosial atau masyarakat. pertama konsep yang dikenal sebagai Narsistik pasif, dimana Seseorang berhasrat menjadi obyek cinta (Liyan) orang/sesuatu lain  (hasrat dikagumi, idealisasi orang lain, atau rekognisi orang lain). hal ini dialami Florentino saat mengenal Fermina daza. ia memunculkan sisi narsistik pasif, dan berharap Fermina dapat menyukainya, padahal dia belum melakukan tindakan apapun. hal ini menunjukan bahwa saat jatuh cinta, akan muncul sebuah peresaan untuk diinginkan, diharapkan, dan dibutuhkan dalam diri seseorang, sebalum akhirnya subjek berani untuk mendekat kepada yang lain.  
Kedua, dikenal sebagai Narsistik aktif dimana Seseorang berhasrat menjadi orang lain. Identifikasi diri pada orang lain (Liyan) adalah cinta atau devosi pada sesuatu yang lain. hasrat ini muncul saat Florentino mengidentifikasi diri dengan tokoh Urbino yang memunculkan keinginan untuk akhirnya menyerupai. namun karena hubungan yang jauh, ia mengalihkannnya pada contoh terdekat yaiatu sang paman yang juga merupakan oraqng sukses. hasrat ingin menjadi ini merupakan usaha Florentino untuk meraih object petit a.
Ketiga, adalah Anaklitik aktif. Hasrat ini merupakan keinginan untuk memiliki orang/sesuatu (Liyan) sebagai cara mendapat kepuasan. hal ini dialami Florentino dalam beberapa fase. pertama hasrat memiliki Fermina, dan berharap memperoleh kepuasan pengganti dalam kehidupannya. kedua hasrat memiliki harta, tahta, jabatan, sebagai pengganti ketidakmampuan memperoleh Fermina (objek pertama). ketiga adalah serangkaian hubungan terlarangnya dengan 622 wanita selama 50 tahun lebih. disini Florentino diidentifikasi sebagaiorang yang ingin memilki permpuan untuk menjadi objek pengganti dan memperoleh kesenangan atas kekecewaannya terhadap objek pertama.
Keempat adalah Anaklitik pasif, yaitu Hasrat ingin dimiliki Liyan (orang lain atau sesuatu yang lain) sebagai sumber kepuasan liyan. hal ini sangat jelas dalam setiap aksi seksualnya bersama para wanita disetiap moment hubungannya dengan wanita. pertama kali melakukan hubungan seksualitas dengan wanita, Florentino berada dalam kategori Anaklitik Pasif, hingga akhirnya terus berkembang dan menjadi semakin aktif dan memunculkan sisi narsistik diri.

III.2. Dinamika Hubungan Antar Pemain dalam perspektif Psikoanalisa
Film love at time of cholera memiliki lapisan makna hubungan yang sangat mendalam, sebab film ini merupakan film berkategori drama yang ide ceritanya sangat wajar dan ditemukan dalam realitas kehidupan sehari hari. hubungan ini tidak terbatas hanya pada hubungan percintaan tetapi juga hubungan antar manusia dan antar anggota keluarga yang menjadi isu sentral dalam membangun kisah dalam film. berbagai dinamika hubungan antar manusia dalam film ini dapat dilihat sebagai berikut :

Hubungan Ibu-Anak (Anak laki-laki (Florentino Ariza) dan tokoh ibu (Transito Ariza))
Lacan menjelaskan hubungan Ibu dan Anak sebagai suatu hubungan yang sangat erat dan saling melengkapi. dalam proses pendewasaan anak akan terpisah secara perlahan dari ibu dan masuk pada aturan sang ayah atau yang dikenal dengan aturan sosial dan hukum di masyarakat. film ini sangat menekankan aspek hubungan orang tua dan anak, terutama antara florentino dan tokoh Ibu, Transito Ariza. Ibu mencitrakan sosok perempuan yang selalu menjadi tempat anak berkeluh kesah tentang semua permasalahannya. Florentino dapat dikatakan sebagai tokoh yang mengalami masa Oedipus yang cukup panjang dan sulit terlepas dari perngaruh dan sentuhan tokoh ibu.
 
ada beberapa hal yang menunjukan besarnya pengaruh dan ketergantungan Florentino terhadap ibu. pertama, saat mulai mengenal perempuan lain selain ibunya, Florentino yang tengah kasmaran meluapkan kegembiraan sekaligus ketakutannya tentang sosok perempuan lain tersebut kepada sang ibu. secara tak langsung ia cenderung mencari kesamaan dan kemiripan sikap perempuan yang ditemuinya dengan sosok ibu dan sekaligus meminta persetujuan tokoh ibu. kedua, adalah saat Florentino mengalami patah hati perempuan selain ibunya tersebut menikah dengan orang lain. ia kembali ke tokoh ibu dan menjadi kembali seperti anak kecil yang tidak mau terlepas dari ibu. ibu, bagi tokoh Florentino adalah sentral dirinya, dan menjadi tempat berkeluhkesahnya. hal ini terus berlanjut bahkan hingga Florentino menginjak usia 40an. ia masih belum bisa lepas dengan penuh dari ketergantungan terhadap ibu.  dapat dikatakan masa oedipus complex yang dialami seorang Florentino Ariza amat sangat panjang dan menetap dalam pribadinya, hingga usia yang sudah sangat matang.
hal ini dapat dikategorikan sebagai kehilangan atau belum ditemukannya identitas dirinya oleh tokoh Florentino. ia tidak memiliki contoh selain ibu yang cukup dekat dengan hidupnya, sebab sejak kecil ia tidak menbgenal sosok ayah.  dalam film diceritakan Ayah florentino meninggal saat ia masih sangat kecil, dan digambarkan bahwa ayahnya adalah sosok yang tidak baik dan menyesangrakan ia dan ibunya.
            tokoh ibu, dicitrakan sebagai figur yang baik dan berusaha memenuhi kebutuhan anaknya, tidak saja dari materi, tetapi juga dalam proses pencarian identitas diri bahkan identitas seksual. saat sifat rapuh tokoh Florentino muncul, ibu menjadi pendorong untuk menjadikan anaknya sebagai orang yang sukses dan berusaha agar anaknya menjadi setara secara sosial dengan kaum terpandang lainnya. tokoh ibu lah yang mengemis memohon agar Florentino diberi pekerjaan yang layak dan terpandang. begitu pula saat krisis kepercayaan diri Florentino muncul (yang lagi-lagi deisebabkan masalah percintaanya), tokoh ibu kembali berperan dalam mengembalikan kepercayaan dirinya dan memperkenalkan seks dengan cara yang cukup radikal. dengan niat agar Florentino melupakan Fermina Daza, ia sengaja mengurung anaknya dengan seorang janda dalam sebuah kamar.  hal ini menunjukan sebuah kekhawatiran, anmun berdampak Florentino menjadi pecandu seks, sebab tokoh ibu membenarkan hal tersebut. akibat kedekatannya dengan ibu, hal tersebutpun dinilai sebagai hal yang wajar bagi Florentino.

Hubungan Anak-Ayah (Anak perempuan (Fermina Daza) dan tokoh Ayah (Lorenzo Daza))
Film ini menempatkan tokoh ayah sebagai peran antagonis. karakter “Ayah” dalam film ini menunjukan lambang kekuasaan atas tatanan aturan dan hukum keputusan.  dinamika hubungan anak ayah terjadi terhadap tokoh perempuan yaitu Fermina Daza. Fermina hidup hanya bersama ayah, tapa didampingi tokoh ibu. seperti halnya Florentino, Fermina kehilangan sosok ibu diwaktu masih sangat kecil. Ayah menjadi pusat tatanan dominasi atas sang anak. dalam film ini diperlihatkan bagaimana ketundukan anak terhadap ayah, dan ayah adalah pengambil keputusan atas semua hal.
dalam tiap cerita ayah selalu diibaratkan sebagai ancaman yang menjadi penghalang dan pembuat keputusan yang subjektif bagi Fermina. Fermina selalu tidak punya pilihan dalam hidupnya karena selalu telah dipilihkan oleh ayahnya. pertama, ia tidak boleh berhubungan dengan Florentino, dengan alasan status sosial dan ekonomi yang tidak sepadan. kedua ia memutuskan hubungan secara paksa antar kedua tokoh yang telah terbangun. ketiga tokoh ayah juga mengambil keputusan sendiri untuk pindah kota dengan harapan dapat memisahkan anaknya dari Florentino. keempat adalah penentuan jodoh bagi anaknya yang dilakukan melalui pandangan subjektif tokoh ayah terhadap Dr Urbino.
dalam Psikoanalisis yang dikemukakan lacan, hukum sang ayah, yang disebut sebagai hukum bahasa, aturan, dan segala sesuatau yang bersifat mengekang kebebasan diri dinilai sebagai suatu yang mencoba membatasi diri dari dunia agar tidak terjadinya chaos. namun perspektif peraturan sang ayah, saat diterapkan dalam film ini menjadi bentuk aturan yang sangat mengekang kebebasan individu, dan cenderung dianggap bukan sebagai sesuatu yang baik.  hal ini terlihat dari usaha tokoh ayah yang ingin menjadi pusat tatanan simbolik dari semua dinamika yang terjadi disekitarnya, termasuk dengan permasalahan individu anak. hal ini menunjukan bahwa ayah, dalam film ini sebagai sososk yang kebalikan dari tokoh ibu.
Bila melihat dua karakter utama ini terbentuk, Florentino dengan kedekatannya terhadap tokoh Ibu, cenderung tumbuh menjadi individu yang mengadopsi sifat feminis, rapuh, gampang menangis dan terluka dan sangat terobsesi pada hal hal feminis. ia juga menjadi objek pasif dalam menghadapi persoalannya dan tak mampu bertindak dnegan tegas dan mengingkari simbol alamiah anak laki-laki yang dipahami secara sosial.  sebaliknya, Fermina yang dibesarkan tokoh Ayah, justru menjadi perempuan maskulin, tidak pernah digambarkan menangis sekalipun, bahkan saat ia dikhianati dan ditinggalkan suaminya. Fermina, seperti mengadopsi sifat maskulinitas tokoh ayah, justru tumbuh menjadi perempuan yang cenderung ingin menjadi pusat aturan dan aktif.

Hubungan Suami-Istri, laki-laki dan perempuan
Hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan hubungan yang sangat kompleks. sebelum menjadi suami istri, laki-laki dan perempuan mengalami hubungan percintaan yang dalam bahasa populernya di sebut sebagai PDKT. Masa ini disebut sebagai masa pengenalan, yang dalam bahasa Lacan dikenal sebagai proses identifikasi diri dan orang lain. hal ini bertujuan untuk mencari benang merah kesamaan konsep diri yang akan menentukan arah hubungan selanjutnya.
Kecenderungan saat seorang anak bisa mengenal dirinya adalah ia akan mulai mengidentifikasi sesuatu Yang Lain (others) selain dirinya.  identifikasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak ia mengenal orang lain selain dirinya, seperti ibu, ayah, saudara, atau anggota keluarga lainnya. proses ini terus berlanjut hingga dewasa dan berkembang lebih luas dalam mengidentifikasi lawan jenis.
Film ini sangat kaya dalam menggambarkan hubungan laki-laki dan perempuan dari berbagai sudut pandang. mulai dari pandangan subjektif, objektif, hingga pandangan sosial dan budaya. dalam film ini disetujui bahwa hukumk pernikahan merupakan hukum sosial yang wajib dijalani dalam hubungan laki-laki dan perempuan. hal ini, oleh Fermina Daza dilaksanakan dengan patuh dan taat saat ia akhirnya menikah dnegan Dr Urbino. namun selain hukum legal ada hubungan lainyang tidak legal namun tetap dilaksanakan dan menjadi simbol kekuasaan laki-laki (patrilineal) dalam film ini, yaitu perselingkuhan. perselingkuhan mewarnai setiap jalan cerita dalam film ini. pertama saat Dr Urbino (suami Fermina Daza) berselingkuh ditengah pernikahan mereka, walaupun akhirnya semua kembali seperti semuala. kedua adalah yang dialami Florentino Ariza, yang berselingkuh dengan istri seorang tukang kayu, yang membuat si tukang kayu marah besar hingga membunuh istrinya tersebut

Namun, disamping hukum pernikahan laki-laki dan perempuan yang legal, akhir film ini justru tidak bermuara pada titik aturan tersebut.  akhir kisah ini menceritakan kembali bersatunya Florentino dan Fermina, namun bukan dalam sebuah ikatan pernikahan, namun dalam sebuah kekuasaan ‘Phallus”. mereka kembali bersama saat usia telah mencapai 80an sehingga hukum pernikahan bukan menjadi kewajiban lagi bagi mereka.
            Hubungan lawan jenis yang menarik seperti yang dialami oleh Florentino Ariza bersama 662 perempuan yang ditemuinya selama masa penantiannya terhadap Fermina. hubungan yang terjalin merupakan hubungan yang hanya berdasarkan hasrat badaniah, namun ia memiliki banyak pelajaran dari hal tersebut. beragam manusia dan tipe perempuan dikenalnya melalui hubungan yang menentang aturan sosial masyarakat tentang pernikahan. hal ini dapat dilihat pada poin ketergantungan seksual Florentino dalam Film ini.

Hubungan keponakan-Paman
Hubungan ini terjadi anatara florentino dengan pamannya, Don Leo. Don Leo merupakan orang terkenal dan pengusaha kaya. tokoh paman, adalah tokoh identifikasi kedua bagi Florentino setelah ibunya. dengan semua kegagalan yang dialaminya, Florentino berusaha mengidentifikasi dan mencapai penyamaan diri dengan tokoh Don Leo, dengan berfikir bahwa kekuasaan akan memberikan kesenangan lain baginya (Object petit a). bahkan walaupun ia harus menderita karena cintanya pada Fermina, tapi dengan harta dan kekayaan ia dapat meraih apapun yang diinginkannya. bahkan keyakinannya bahawa uangpun dapat mengembalikan ‘barang’ yang diinginkannya yaitu cinta Fermina.
Florentino menjadikan paman sebagai sentral dalam usahanya mencapai keberhasilan. hal ini terjadi setelah sebalumnya Florentino merasa tersaingi dengan Dr Urbino yang sukses dalam karir, sosial dan ekonominya, hingga ada upaya dirinya untuk mejadi seperti Dr Urbini. namun ia tidak memiliki figur yang dapat menjadi panutan, selain pamannya sendiri yang merupakan saudara dari ayahnya yang telah meninggal, yang selalu membantu keluarganya secara finansial.

Hubungan Keponakan-Bibi
Hubungan yang terbangun antara keponakan dan bibi, terjadi terhadap tokoh Fermina dengan bibinya Escolástica. dalam hal ini sang bibi mengambil peran sebagai ibu kedua bagi fermina, dan dengan sifat keibuan, menjadi pelindung fermina dari tokoh Ayah. Escolástica sendiri merupakan adik ayahnya yang hidup bersama mereka sejak kecil sekaligus menjadi ibu asuh dan penjaga Fermina. namun, seperti halnya penggambaran tokoh ibu lainnya, perempuan ini juga digambarkan sebagai manusia yang kompromis dan selalu mengikuti kehendak Fermina. Ia berfungsi sebagai penghubung anatara fermina dan florentino. Escolástica tidak melarang hubungan tersebut dan menganggapnya sebagai sesuatu yang indah, dan bahkan menyarankan untuk menikah. namun akhirnya, kuasa sang ayah tetap mematahkan keyakinan tersebut. Escolástica akhirnya diusir dari rumah karena dianggap lalai dalam menjaga fermina.
secara umum dalam film ini berusa ditampilakan peran pengganati tokoh utama dalam lingkup terkecil kehidupan seorang anak. Florentino yang tidak memiliki ayah, mengidentifikasi diri seperti pamannya sendiri, yang merupakan tokoh laki-laki terdekat dalam kehidupannya. begitu juga Fermina, yang tidak memiliki ibu, mengadopsi nilai feminis dan menjadikan bibinya sebagai tempat berlindung dari tokoh ayah yang diperankan secara antagonis dalam film.

Hubungan Antar Sepupu
Hubungan ini merupakan hubungan setara, dan identifikasi dapat dilakukan secara imajiner antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. hubungan anatara Fermina dnegan Sepupunya Hildebranda, adalaha hubungan yang penuh saling pembelajaran. hal ini semakin dekat, karena Fermina tidak memiliki kedekatan dengan perempuan lain selain bibinya yang menjadi pengganti ibu. Hubungan antar sepupu bisasnya dapat dikatakan sebagai hubungan sesama saudara dan teman.
Identifikasi juga berlaku dalam hubungan setingkat seperti ini.  Fermina Daza selalu mencoba menemukan pembenarn pendapat atas tindakannya dari tokoh Hildebranda.  hal ini disebabkan proses identifikasi yang sangat dekat dengan dirinya, dan sangat menyerupai dirinya. hal ini terus berlanjut saat keduanya semakin dewasa. Fermina menemukan Identifikasi diri yang menyimpang, saat tokoh Hildebranda akhirnya tak menemukan apa yang dicarinya dalam hidupnya, hingga Fermina berhasil mencapai identitas sempurna dalam dirinya.
III.3. Analisa Sexual Disorder terhadap tokoh Florentino Ariza
Seksual disorder memiliki berbagai macam bentuk. dalam kasus film ini seksual disorder terjadi karena latar belakang psikologis dan sosial yang memposisikan Florentino sebagai yang “terkalahkan” alam perjuangan cintanya.  ia kemudian memilih tidak akan menikah dan akan menjaga keperjakaannya hingga nanti bertemu lagi dengan Fermina.  namun semuanya berubah dratis. ia kemudian menjadi pecandu seks dan membukukan seluruh petualangan seksualnya hingga berjumlah 622 perempuan.
Namun diakhir cerita ia tetap membenarkan bahwa dirinya masih tetap perjaka. hal ii merupakan konotasi terhadap perasaan cinta dihatinya, yang sesungguhnya walaupun telah tidur dengan banyak wanita, namun hatinya tidak pernah berselingkuh.
Hal ini digambarkan dalam film dengan sangat cepat sehingga kesalahan orientasi seksual an kecanduan yang dimiliki Florentino terasa sebagai sesuatu yang wajar dan bukan kelainan. kemunculan seksual disorder ini adalah sebagai objek pengganti, objek pelarian dari rasa sakit hati, kecewa dan ketidak mampuan untuk menguasai apa yang diinginkannya. Florentino tak mampu mengontrol dunia simbolik dan aturannya, hingga merasa perlu membangun dunia dengan -aturan sang ayah -yang baru yang mampu membebaskan hasrat, fantasi dan rasa kecewanya dengan cara yang dilegalkannya sendiri.
Film ini hanya menggambarkan keberadaan Florentino dalam jelajah Seksnya bersama 4 orang perempuan. pertama, adalah momen pengalaman seksualnya pertama kali diatas sebuah kapal bersama seseorang yang tidak dikenalnya. dalam hal ini Florentino berada dalam posisi pasif dan terpaksa melakukannya, namun berdampak psikologis sangat luas terhadap diri dan identifikasi diri kedepan. tahap ini ia masih berada dalam wilayah abu-abu. pengalaman seksual keduanya justru semakin mengukuhkan pelarian kepercayaan dirinya terhadap perempuan. ia berhubungan dengan Nazareth, janda yang sengaja disiapkan ibunya agar ia bisa melupakan fermina. masa ini Florentino kemudian berhasil memenuhi kesadarannya dengan prilaku seksual menyimpang sebagai sebuah pelarian sakit hati.
sejak saat ini ia mulai berpetualang bersama berbagai macam wanita. pengalaman lain yang ditemui Florentino saat bersama tokoh Sara Noriega, yang kemudia mengajarkannya tentang pembagian fisik dan non fisik dari cinta. Florentino kemudian memaknai kembali dan semakin membenarkan bahwa apa yang dilakukan bukan sebagai sebuah kesalahan atau bentuk penyimpangan dari hukum dan aturan sosial. pertengan jalan, Florentino mengalami sedikit gincangan keyakinan kembaali, dan berfikir apakah yang dilakukannya benar atau salah. hal tersebut terjadi saat hubungan percintaannya dengan Olimia Zuletha diketahui sang suami yang berakhir dengan pembunuhan karena kecemburuan suaminya.
III.4. Metafora visual film “Love at time of Cholera”
Metafor adalah sebuah gaya bahasa film yang cukup menarik untuk diperhatikan. Terdapat hubungan anatara suatu simbol dengan konotasi secara kognitif, sosial ataupun subjektif dari sebuah metafora. film ini berisikan sangat banyak metafora, sebab film dengan genre percintaan dan romantika drama, selalu membawa bumbu dramatis dan perumpamaan.

Sungai, Gunung dan Kapal
Film ini sangat sering menggambarkan aliran sungai sebagai pengisi jeda antar konflik percintaan, atau akhir dari sebuah penyelesaian. Sungai memiliki makna yang sangat misterius, sebaba aliran sungai yang digambarkan adalah aliran sungai yang sangat tenang dan tak beriak.  hal ini menunjukan bahwa makna sungai adalah makna tersembunyi, bahwa setiap jalan keluar yang muncul dari konflik dalam film ini sangat tereduksi oleh karakter tokoh-tokoh film yang cenderung introvet, seperti Florentino. Sungai juga bermakna sangat feminis, saat digabungkan dengan simbol gunung (yang diibaratkan sebagai perempuan) dan kapal (yang merupakan simbol Phallus). penggambaran ketiga unsur ini sangat banyak dalam film Love at time of cholera. hal ini diibaratkan bahwa penggabungan ketiga elemen ini sebagai terpenuhinya hasrat. akhir film ini juga menggunakan perumpamaan kapal yang mengalir disela sungai menuju puncak hasratnya, dan tidak akan kembali lagi dalam aturan aturan yang terbentuk secara sosial. hal ini diibaratkan bahwa kapal dan anak sungai adalah perjalanan paling akhir dan tujuan hasrat itu sendiri. 
Potongan Rambut dan Mawar
Rambut dan mawar juga mengisyaratkan sebuah kekuatan pribadi. Rambut merupakan bagian terpenting di diri manusia dan disebut sebagai mahkota diri. Bila seseorang telah mnyerahkan potongan rambutnya, makna yang muncul adalah bahwa ia telah rela menyerahkan seluruh jiwa dan raganya. Sedangkan mawar, merupakan simbol cinta dan perasaan yang mendalam, walaupun tidak sedalam makna potongan rambut yangdiserahkan untuk orang lain.  

V.1. Kesimpulan
Film love at time of cholera meruapakn film yang sangat memikat dalam simbolisasi dan alur cerita. dengan perspektif Psikoanalisa Lacan dapat dilihat dengan jelas mengenai kecenderungan perkembangan tokoh Florentino dalam setiap tindakannya. masalah identifikasi dan hasrat diri merupakan hal sentral didalam film. seksual disorderpun muncul, bukan tanpa sebab. ada sebab akibat saat seseorang akhirnya menjadi mengidap kecanduan seksual dan dalam kasus ini adalah sebagai bentuk pelarian sakit hati dan usaha menemukan object petit a.
            hal lain yang menonjol dalam film ini adalah dinamika hubungan yang terbangun anatar tokoh. tanpa disadari sesungguhnya hubungan tersebut terjadi dalam dunia realitas kita. selalu ada hal yang menyebabkan semua sifat dan sikap manusia tergantung dari cara lingkungan mendidiknya. anak laki-laki yang dibesarkan dengan protektifitas ibu berpotensi membuat anak lambat untuk mencapai kedewasaan dan menjadi rapuh. sebaliknya, anak perempuan yang dibesarkan dalam tekanan ayah justru menjadi pewaris sifat maskulinitas dan mampu kuat, walaupun ada pengingkaran diri didalamnya.

V.2. Kritik/Saran
            Secara keseluruhan film ini cukup dapat dinikmati dengana baik. namun beberapa adegan terkesan sangat tergesa-gesa dalam penggambarannya. selain itu sangat terasa bahwa totalitas cerita tidak sempurna karena untuk menggambarkan kejadian yang berlangsung selama 50 tahun dalam sebuah film, menyebabkan ada lompatan tak logis yang mengurangi nilai historis dan makan dalam film.