Kicau Galau


dengan pisau berkarat mereka mulai mengkloning jiwa jiwa tanpa genetika. Untuk kemudian di rekayasa dalam ruang ruang kosong tanpa suplai udara.
triliunan sel kemudian dipecah ratakan dalam puluhan kotak tak bernama, tak bersuara, tak berirama, tak bercahaya, dan tak berrasa.
untuk sebuah penyamarataan.
hidup mereka tak lebih dari eksperimen ecoli yang membantai glukosa. Tanpa enzim. Dan bisa berarti tanpa rezim.
Saya merasa cepat gila dan seakan membuang2 nyawa. Karena setiap inci DNA yang bersenyawa tak mampu terurai dari benang benang berpelakat, yang perlahan menggulung seperti laba-laba.
Saya menjadi unit kecil yang hanya mampu dilihat dengan lensa lensa mikrospkopik. Satu per limaratusribu milimeter ukuran si pasangan basa.

Kombinasinya terlalu berprotein. dalam proses. mereka hanya mampu menstimulasi prekusor hormon. Tapi tidak struktur renin yang berpengaruh pada 4,6 juta keping genom manusia.

mereka menjadikan manusia rekayasa, dan merekayasa manusia.. sporadis, dan tidak estetis.

#belajar menulis ngawur kembali# terimakasih, DNA!

saat ini sedang berfikir dengan sangat cepat. Untuk memutuskan perlu tidaknya klarifikasi. Penjelasan. Protes. Ketidaksenangan. Atau sejenisnya, terhadap pembenaran subjektif sikap dan prilaku yang mulai disesalkan banyak pihak.

Sangat sulit untuk menggiring orang lain pada pembenaran dan kesadaran yang memancing autokritik individual melalu cara cara persuasif. Dan ternyata cara makarpun juga sulit.

Ada semacam gap, ruang kosong, dinding, dan celah, yang sengaja dibiarkan kosong. Tujuannya untuk melanggengkan apa yg disebut Foucault dengan k.e.k.u.a.s.a.a.n..

Terlalu heroik bila saya harus mengorbankan diri. Tapi akan terlalu hina bila saya diam.

Saat ini sedang berfikir dengan cepat. Sangat cepat.

Kembali teringat ragam bangun supra struktur yang keberadaannya dipaksakan dan menekan dengan sejadi-jadinya kelompok mayoritas diam yang mendewakan rupiah, demi anak, keluarga, diri sendiri, dan kelanggengan duniawi.

Jujur, saya mulai merasa berbeda. Paling tidak mulai menemuan keberadaan yang tidak patut untuk terus berada.

Kepentingan kepentingan terlalu abadi didalamnya. Yang kemudian membentuk sub struktur yang berfungsi sebagai tentakel pengayaan diri diri secara pribadi.

semua bertarung dengan alibi dan benteng pertahanan masing-masing. dan akhirnya memutuskan untuuk berkoalisi menjadi penjahat penjahat individual yang saling memaklumi. Sangat memalukan.

sekarang sedang berfikir dengan sangat cepat. Haruskah? Mestikah?

Semuanya berkembang menuju titik yang tanpa titik. Absurd dan terlalu janggal untuk dimengerti.

Sekarang kembali berfikir dengan cepat. Diwilayah abu abu tai kucing.

metamorfosisnya terlalu tidak sempurna. Cacat dimana-mana. Bahkan lebih cacat dibanding sebelum mereka memilih memasukan sistem jaringan penyuplai rupiah
dalam inkubator plastik yang beraturan prematur.

Tidak salah, bila ada kuman kuman yang hinggap, hidup, menetas, berkembang biak, beranak pinak, mengakar, dan membentuk koloni-koloni dalam jumlah triliunan. Yang tumbuh seperti spora dan protozoa lalu menular melalui udara.

Menghadapinya, jangan berharap pada kuatnya resistensi. Tetapi lewat kompromi. Jangan berharap pada negosiasi, tetapi melalui upeti.

Cacat!

Karena itu, tetap sajalah menjadi ulat bulu. Karena metamorfosismu akan gagal. Atau, merubah diri sajalah menjadi ampibi. Mungkin akan bisa muncul batas batas toleransi.

Dan semoga tidak lagi cacat!

-kepada mereka para isolator-

seperkian waktu, catatan catatan itu terpinggirkan. seperti sebuah ruang kosong mulai hadir ketergantungan baru terhadap esensi diri yang sesungguhnya.

Ada kekhawatirah bahwa kontinuitas ini akan terbabat habis, hingga semua harus dimulai kembali dari tingkat akar rumput. Membongkar kembali konsep diri dan eksistensi praktis yang tanpa pola.

Perlahan, mulai memberat sebelah, perlahan mulai memihak, perlahan mulai menakar dan mengukur, tapi belum cukup alasan untuk memilih.

Fakta nyata bila manusia adalah makhluk yang membawa kebaikan untuk sesama. Bukan manusia manusia yang tunduk pada aturan duniawi tentang kepentingan abadi. Pada kesewenangan. Dan pada ketidakadilan.

Mutualisme. terkadang sporadis.

kita tidak harus menyenangkan semua pihak mati matian. namun menjadibergunalah bagi sesama, bermanfaatlah untuk harmonisasi dunia, dan terpakailah untuk keseimbangan besar dari rotasi bumi dan matahari.

Bila merasa apa yang kau lakukan telah membuat banyak orang menderita, mundurlah. Karena ada hal baik yang menunggumu, yang akan membuka jalanmu untuk memuliakan sesama. Dan kau akan menjadi lebih berguna, bukan bagi segelintir manusia, tetapi semuanya..

jatuhkanlah pilihan.


saya sangat percaya bahwa setiap kejadian yang mengiringi tarikan nafas adalah ilmu. peristiwa adalah buku. Dan kejadian adalah rekaman dan perkamen panjang yang membekas dalam otak, dan teranalisa dalam hati.

Pagi itu, saia memulai waktu melalui sebuah harap, bahwa setiap kepala yang akan bertatap, bisa menambah kaya jiwa dan paradigma.

saya mulai mendefinisikan hakekat manusia dengan jiwa jiwanya. Saya harus keluar meninggalkan diri, dan melihat, menatap, memandang, memikirkan, dan menganalisa setiap prilaku dan sikap yang berjuta maknanya, berpuluhjuta bias-nya, namun beribu juta menariknya.

Sudah sangat lama saya lupa memandang manusia dengan seksama. Sehingga saya mulai sedikit kesulitan membaca.

Manusia terbentuk mengikuti hukum hukum alam, bukan hukum rimba. Melalui hukum hukum tuhan, bukan hukum manusia.

Berjuang dengan tanggung jawab, bukan dengan egoistis. Dengan kesabaran, bukan dengan emosi. Dengan keikhlasan, bukan paksaan. Dengan prestasi, bukan prestisi.

Saya memetakan kebencian, keikhlasan, keberanian, amarah, benci, dendam, egoisme, kemunafikan, keserakahan, kelicikan, kehancuran, kebangkitan, perlawanan, apatisme, skeptisme, dan parasitisme dalam satu waktu.

Dan saya mulai mendekat pada kesimpulan. Mereka yang penting justru ternyata adalah jiwa jiwa yang tidak penting dalam halaman halaman buku saya. Tetapi mereka yang saya duga tak penting, justru hadir seperti belati, menghujam tepat di tengah jantung, membabat habis arteri dan vena tanpa menyisakan jaringan pengangkut darah. Semua tanpa suara, tanpa kata, tanpa banyak bertanya.

Saya hanya memperhatikan.

seketika menyerang hulu hati..

ini tak akan saya tulis, kalau tak membekas di hati, dan masih terfikirkan hingga sekarang..

Padang, 28/11/2010.17:34