Pages Categories

12 Juni 2011

Talk about Women, Film and Cyborg (Bag.8)


Memahami film tidak dapat dilepaskan dari struktur naratif sebuah film. sebuah narasi merupakan teks yang telah dikonstruksikan dengan cara tertentu sehingga merepresentasikan rangkaian peristiwa atau tindakan yang dirasa saling berhubungan satu sama lain secara logis atau memiliki jalinan tersendiri. (Danesi, 2004:202). Makna teks narasi bukan merupakan proses langsung dari penentuan makna kata-kata individu dengan yang dikonstruksikannya, tetapi lebih merupakan proses yang melibatkan penginterpretasian makna secara holistik sebagai sebuah tanda (dimana X adalah teks narasi aktual dan Y adalah makna yang dapat diambil dari teks tersebut). Y disebut sebagai subteks, yang diperoleh pembaca dari petunjuk-petunjuk didalam teks utama. Beberapa petunjuk tersebut bisa berada dalam bentuk interteks, yang berupa kiasan dalam narasi dengan teks-teks lainnya (Danesi, 2004:202)[1]
Esensi narasi adalah plot, karakter dan setting. Plot, pada dasrnya adalah apa yang diceritakan oleh narasi itu sendiri, yaitu sebuah “makro-referen” dimana narasi, sebagai teks, menarik perhatian. Karakter mengacu pada orang atau makhluk lainnya yang diceritakan dalam kisah tersebut. Tiap karakter merupakan sebuah tanda yang mewakili satu jenis kepribadian. Sedangkan setting adalah lokasi dan waktu plot terjadi. (Danesi, 2004:203).
Thwaites, Davis, dan Mules. (2002) mengungkapkan bahwa struktur naratif melengkapi berbagai ciri tekstual  dan semiotika lainnya dalam tiga cara utama, pertama, memperkenalkan dimensi waktu pada konotasi dan mitos. Kedua, memperkuat makna jaringan sosial dengan mentransformasikan peristiwa menjadi aksi yang dilakukan oleh para karakter. Ketiga, menambahkan kesenangan yang ada bersama cerita. (Thwaites, Davis, dan Mules. 2002:178).
Proses dari efek merepresentasikan waktu dalam teks disebut narasi, sedangkan teks yang distrukturkan oleh rangkaian waktu dari berbagai peristiwan yang direpresentasikannya disebut sebagai naratif. (Thwaites, Davis dan Mules, 2002:174). Struktur naratif sendiri kemudian membentuk apa yang dsebut dengan kesenangan naratif[2], yang biasanya akan mempertahankan perhatian pembaca/penonton hingga tahap klimaks dan closure dalam cerita selesai.
Peristiwa merupakan bagian dinamis dari kisah, dan dapat mengubah suatu situasi. peristiwa berkombinasi menjadi rangkaian untuk membangun cerita yang meliputi beberapa rangkaian. terdapat dua jenis utama peristiwa, pertama, sebagian peristiwa mendahulukan aksi dengan membuka alternatif (contoh: seseorang yang masuk ke dalam ruangan, telepon berdering, ada ketukan dipintu). kedua, sebagian peristiwa lainnya tidak membuka aksi alternatif tetapi membuka atau memperluas hasil aksi. (Thwaites, Davis dan Mules, 2002:179). Dalam bahasa semiotik, sebuah film dapat didefinisikan sebagai sebuah teks yang pada tingkat penanda, terdiri dari serangkaian imaji yang merepresentasikan aktivitas dalam kehidupan nyata. Pada tingkat petanda, film merupakan cermin metaforis kehidupan. (Danesi, 2004:122).
Christian Metz, ahli semiotika film, mengungkapkan bahwa fakta yang harus di  pahami adalah bahwa film harus benar benar dapat dimengerti. Analogi ikonik sendiri tidak selalu dapat menjelaskan wacana dalam film, sehingga membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam dalam membaca bahasa film, yang disebutnya sebagai fungsi dari “the large syntagmatic categoy”. Bahasa film ini kemudian dibagi menjadi delapan pengelompokan, yaitu Autonomous Shot, Paralel Syntagma, Bracket Syntaagma, Descriptive Syntagma, Alternate Syntaagma, Scene, Episodic Sequence dan Ordinary Sequence. (Metz, 1971:146).
Naratif film dan The Large Syntagmatic Category merupakan ide sebagai sebuah sistem tekstual yang digunakan karena adanya keabsenan bahasa sinema, sehingga film dipahami sebagai teks atau wacana dibandingkan sebuah bahasa. Metz berpendapat bahwa film menjadi sebuah wacana melalui pengelompokan sebagai naratif yang kemudian menciptakan sebuah prosedur penandaan. (Stam,Burgoyne dan Leweis, 1992:37).
Dalam Autonomous Shot, terdiri atas satu shot, baik berupa single shot sequance, dan tambahan berupa insert-insert. Empat jenis insert antara lain, non diegetic insert (yaitu shot tunggal yang menampilkan objek diluar dunia fiksional dari aksi didalam film), displaced diagetic insert (yang merupakan gambar nyata namun keluar dari konteks), subjective insert (yaitu menampilkan pandangan/representasi subjektif seperti mimpi, halusisnasi dan memori), dan expanatory insert (yaitu sebuah gambar tunggal yang berfungsi untuk memberikan sebuah penjelasan kepada penonton). (Stam,Burgoyne dan Leweis, 1992:40-41).
Bagi Metz, bahasa film disebut sebagai “a language without a langue”. Ia menyamakan bahasa gambar (image) yang tersusun dalam narasi sebuah film dengan kalimat yang dapat dibaca seperti yang berada pada sebuah tulisan. Tiap komponen gambar saling memenuhi unsur unsurnya satu sama lain hingga membentuk sebuah struktur kalimat dalam film yang dibangun dari bahasa gambar dan kamera. Metz menjelaskan lebih lanjut bahwa shot tidak lebih dari seperti sebuah ungkapan daripada kata, meskipun tidak selalu menyerupai.
Film The Stepford Wives tergolong sebagai salah satu bentuk film Fantasi. film Fantasi merupakan film mengenai “sesuatu yang tidak kita ketahui” atau sebuah “area” yang di lihat sebagai sesuatu yang tidak nyata. (Hayward, 1998:108). Kompleks Stepford sebagai dunia sempurna (utopis) patriaki tradisional merupakan bayangan (Image) dari refleksi struktur nilai-nilai dominan dalam aturan Sang Ayah (laki-laki). Khayalan atau fantasi berhubungan dengan keinginan atau hasrat yang berada dialam bawah sadar yang dalam bahasa Lacan ditempatkan pada posisi imajiner (Imaginary). Khayalan kemudian secara sadar dibentuk melalui artikulasi bahasa gambar (image) dalam rangkaian cerita atau dengan kata lain film memenuhi keinginan akan sebuah hasrat atau fantasi manusia ((Hayward, 1998:109).
Dalam Psikoanalisa Jacques Lacan yang merujuk pada teori Freud menjelaskan tiga fase kehidupan manusia (seperti yang telah disebutkan pada poin penjelasan tentang feminis postmodern-red). Dalam mekanisme pembentukan subjek, anak memasuki fase pertama yaitu pra oedipal, dimana akan belum mengenal batasan ego, belum menyadari batasan antara tubuhnya dan ibunya serta belum terjadi proses identifikasi. Tahap kedua merupakan tahap imajiner atau fase cermin. Fase ini merupakan bentuk pra-verbal dengan logika-logika visual. saat bercermin, seseorang akan mengidentifikasi diri dalam cermin tersebut bersifat imajiner karena dirinya yang berada dalam cermin tersebut hanya berupa image, yang akan diteruskan hingga dewasa dengan terus melakukan identifikasi imajiner dengan objek yang ditemuinya. “cermin” dalam fase ini merupakan metafora dari pandangan ibu, yang memposisikan anak sebagai liyan dalam pandangan ibunya, sebalum sang bayi dapat melihat dirinya sendiri.
Tahap ketiga, yaitu tatanan simbolik, yaitu tahap ketika anak harus berpisah dengan ibunya atau mengalami kastrasi. Anak kemudian memandang ibu sebagai Liyan. hubungan ini diperparah dengan kehadiran sang ayah, berupa mekanisme imaji-diri lain yang kerap represif berupa image diluar diri seperti representasi berbagai versi hukum, aturan, konvesi, adat, tabu yang kemudian diidentifikasi dengan dirinya sendiri. hal ini disebut sebagai simbol ayah. tahap ini sama dengan kelahiran kembali anak melalui bahasa. (Bracher, 1997:300).
Metz kemudian melihat film sebagai sebuah struktur yang dipengaruhi oleh psikoanalisa Lacan dan Freud mengenai apa yang disebut sebagai Imaginary signifier. dalam kaitannya dengan film kemudian ditemukan bahwa film merupakan jahitan pemikiran bawah sadar yang muncul melalui gambar dan disatukan dalam sebuah aksi pembentuk film. Dalam fase perkembangan individu (anak), proses identifikasi tersebut sama dengan bagaimana film membentuk naratif melalui fase simbolik dan imaginer.
Dalam film, Metz kemudian menyamakan fase imajiner dengan bagaimana bahasa dan teks film berfungsi sebagai cermin. Hal ini sangat erat hubungannya antara teks dan interpretasi penonton. Menonton film memungkinkan penontonnya mengidentifikasi diri seperti bayangan yang tampak dilayar film. Hal ini juga memungkinkan proses identifikasi diri dengan tokoh yang ada dalam cerita sebuah film. dengan lebih tajam, penekanan bahasa visual berupa angel shot dan posisi kamera semakin menumbuhkan imajinasi penonton terhadap subjektivitas dan identifikasi.

II.3.3. Mitos dan Ideologi Roland Barthes
Membaca bahasa film tidak dapat dilepaskan dari proses pemaknaan bahasa yang dalam semiotika dikenal dengan pemaknaan konotasi dan denotasi. Gagasan Barthes terhadap tatanan pertandaaan dikenal dengan Order of signification, yang menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya. tatanan tersebut terdiri atas denotasi, konotasi, metafora, simile, metonimi, synecdoche dan intertextual.
Denotasi dapat dikatakan sebagai makna kamus dari sebuah kata atau terminologi atau objek (literal meaning of a term or object). hal ini merupakan deskripsi dasar, misalnya “Big Mac” adalah sandwich yang dibuat oleh McDonalds dan dimakan dengan saus. sedangkan konotasi, adalah makna kultural yang melekat pada sebuah terminologi (the cultural meanings that become attached to a term), misalnya “Big Mac” memiliki makna konotatif bahwa orang Amerika diidentikan dnegan makan cepat saji, keseragaman, mekanisasi makanan, kekurangan waktu, tidak tertarik memask. (Kriyantono, 2006:268).
Metz menjelaskan bahwa konotasi merupakan motivasi yang muncul melalui sebuah analogi yang berdasarkan persamaan persepsi antara tanda dan penanda (symbolic of nature). Sedangkan denotasi merupakan sesuatu yang berasal dari motivasi yang tidak mencerminkan persepsi logis. (Metz, 1971:108-109). Relasi antara penanda dan petanda bersifat arbiter sehingga tidak mengikat tanda pada satu petanda saja. Konotasi dapat bersifat plural dan muncul dari kode yang pada dasarnya dimiliki bersama secara sosial. Konotasi tidak diciptakan secara personal, melainkan sudah tersedia dari suatu tanda. melalui konotasi, seluruh dunia memasuki berbagai sistem penandaan. (Thwaites, Davis dan Mules, 2002:90).
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai “mitos”, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman, 2001:28 dalam Sobur, 2006:71). Ideologi merupakan istilah yang digunakan untuk melukiskan produski sosial atas makna (Fiske, 2006:230). ini merupakan cara Barthes menggunakan istilah “ideologi” saat dia berbicara tentang pengkonotasi (conotator), yakni penanda konotasi, sebagai “Retorika ideologi”. Ideologi merupakan sumber pemaknaan tatanan kedua. mitos dan nilai-nilai konotatif adalah ideologi, dan karena ideologi keduanya berfungsi.
 Mitos dapat diartikan sebagai suatu pengkodean dimana sebuah peristilahan dominan secara metominis mewakili semua peristilahan yang ada dalam satu sistem dan juga sebuah relasi metonimis dominan diantara berbagai peristilahan secara metonimis mewakili semua relasi (Thwaites, Davis dan Mules, 2002:98). Bartes menyebutkan bahwa mitos merupakan tipe wicara dan merupakan sistem komunikasi yang mengandung sebuah pesan. sesuatu dapat menjai mitos asalkan tersaji dalam bentuk wacana (Barthes, 1983:152). Dalam mitos tidak terdapat pola tiga dimensi (penanda-petanda-tanda). Mitos adalah sistem khusus, karena terbentuk dari serangkaian rantai semiologis yang telah ada sebelumnya. Mitos adalah sistem semiologis tingkat kedua. (Barthes, 1983:161).
Barthes menempatkan ideologi dengan mitos dengan pertimbangan bahwa baik dalam mitos ataupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi. seperti Marx, Barthes memahami ideologi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup dalam dunia yang imajiner dan ideal, meski realitas sesungguhnya tidak demikian. Ideologi ada selama kebudayaan ada, dan karena itulah Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. Kebudayaan mewujudkan dirinya dalam teks-teks, dan demikian, ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang dan lainnya. (Sobur, 2006:71).



[1] Sebagai contoh, teks utama dalam film Blade runner adalah kisah detektif fiksi ilmiah, tetapi subteksnya, walaupun masih dapat diperdebatkan, adalah masalah religius yang menceritakan pencarian sang pencipta dan juga makna hidup yang bukan hanya masalah eksistensi fisik. Interpretasi ini diperkuat oleh banyak kiasan intertekstual terhadap beberapa tema dan simbol yang berkaitan dengan injil yang ada dalam film tersebut (Danesi, 2004: 202-203)
[2] Ada dua kesenangan yang kemudian muncul dalam hasrat naratif, yaitu motivasi mengikuti naratif dan kepuasan karena melakukannya. hasrat kesenangan naratif kemudian dapat membuat pembaca menceritakan ulang dan mengolah kembali berbagai kisah (Thwaites, Davis dan Mules, 2002:179).

1 komentar:

Ucheng mengatakan...

Salam kenal ...
konten blog nya menarik, nitip jejak aj dl, lain kali berkunjung untuk berdiskusi, materi blognya berat2 tampilannya juga ga memungkinkan untuk berlama-lama, mataku capek ...

:D

keep blogging !