Pages Categories

12 Juni 2011

Talk about Women, Film and Cyborg (Bag.7)


Hal yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara. Sistem semiotika[1] yang lebih penting lagi dalam film adalah digunakannya tanda-tanda ikonis, yakni tanda tanda yang menggambarkan sesuatu. Seperti disertasi J.M Peters, De tall van de film (1950) diungkapkan bahwa semua penelitian kita telah menjadi suatu teori mengenai tanda ikonis. Musik film juga merupakan tanda ikonis, namun dangan cara yang lebih misterius. Musik yang semakin keras, dengan cara tertentu, “mirip” ancaman yang makin mendekati kita/ ikonisitas metaforis (Van Zoest, 1993:109). 
Film fiksi biasanya akan menyajikan “teks” fiksional yang memunculkan dunia (fiktif global) yang mungkin ada. Analisis terhadap struktur dan aktivitas semiotika film konsep-konsepnya dapat dipinjam dari teori bercerita dan berkisah yang berorientasikan semiotika. (van Zoest, 1999:122). Film menuturkan ceritanya dengan cara khususnya sendiri. Kekhususan film adalah mediumnya, cara pembuatannya dengan kamera dan pertunjukannnya dengan proyektor dan layar. Film sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan televisi. namun film dan televisi memiliki bahasanya sendiri-sendiri dengan sintaksis dan bahasa yang berbeda[2] (Sarder&Lonn dalam Sobur, 2006:130).
Film atau motion pictures ditemukan dari hasil pengembangan prinsip fotografi dan proyektor. Film pertama yang diperkenalkan pada publik Amerika adalah The Life Of An American Fireman dan film The Great Train Robbery pada tahun 1903 (Hiebert, Ungurait, Bhon, 1975: 246 dalam Ardianto,dkk., 2007:144). Pada tahun 1916 lahirlah film feature dan pusat perfilman Amerika yang dikenal dengan Hollywood[3]. Periode ini disebut juga sebagai The Age Of Griffith karena David Wark Griffithlah yang telah membuat film sebagai media yang dinamis[4]. (Hiebert, Ungurait, Bhon, 1975: 246 dalam Ardianto,dkk., 2007:144). Film dipahami sebagai teks yang berisikan serangkaian foto (gambar) yang menciptakan gambaran akan kehidupan nyata (Danesi,2002: 108)[5].
Dari berbagai jenis gaya film, film fiksi dan fantasi[6] adalah sumber kesenangan karena ia menempatkan’realitas’ dalam selingan, membangun solusi-solusi imajiner bagi kontradiksi-kontradiksi nyata yang dalam kesederhanaannya hanya fiksional dan fiksionalitasnya yang sederhana keluarlah kompleksitas hubungan sosial yang membosankan yang berkenaan dengan dominasi dan subordinasi. (Ien Ang dalam Storey, 2007:30).


II.3.1. Film Postmodern
Film Postmodern muncul pada tahun 1980 dan I990 sebagai suatu kekuatan kreatif di Industri film Hollywood. Hal ini mencerminkan pembentukan budaya media, teknologi, dan konsumerisme. Film postmodern ditandai dengan naratif yang terpisah, kondisi kegelapan manusia, kekacauan dan kekerasan, kematian superhero, dan pandangan-pandangan dystopic tentang masa depan. Film Postmodern menarik suasana hati penonton terhadap ketidak-pastian, ketakutan, dan kesinisan yang seolah-olah terjadi dalam masyarakat umum (Boggs&Pollard, 2001:159 ).
Film Postmodern, tidak mengenal satu bentuk pasti dari sebuah genre film. dalam film postmo cenderung terjadi pengkaburan batas genre yang membuat film mengarah kepada kondisi mengambang dalam penggambaran tujuan. Film postmo, biasanya menjadi area simulasi sempurna dunia masa depan dan melawan modernitas, sebab fiksi yang ditampilkan cenderung mengarah pada fantasi dan imajinasi dunia masa depan yang berjalan seiring dengan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. kategori sinema Postmodern kebanyakan mengambil bentuk berupa Sciencee fiction.
Film Science Fiction kebanyakan digunakan untuk memunculkan berbagai macam ide baru dengan mengaburkan batasan-batasan yang ditemui dalam masyarakat modern seperti gender, kelas, budaya, manusia-hewan, manusia-mesin dan hal fisik dan non fisik. Rocío Carrasco dalam bukunya New heroes on screen mengungkapkan bahwa sciencee fiction dapat diartikan sebagai suatu bentuk gaya baru yang mewakili postmodernisme dalam mentiadakan batas-batas dan menawarkan banyak penggabungan-penggabungan, diamana gender berbicara melalui potongan-potongan visual, walaupun dalam waktu yang sama pengarang sering menyatukan kembali dengan nilai-nilai patriaki tradisional. (Robé, 2007:59)[7]



[1] Film merupakan bidang kajian yang sangat relevan bagi analisa semiotika. Seperti dikemukakan van Zoest, film dibangun dengan tanda semata-mata. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Rangkaian gambar dalam film menciptakan imaji dan sistem penandaan. Karena itu dalam film digunakan tanda ikonis yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu (van Zoest, 1993:109). Memang ciri gambar-gambar film adalah persamaannya dengan realitas yang ditujukannya. Gambar yang dinamis dalam film merupakan ikonis bagi realitas yang dinotasikannya (Sobur, 2006:128).
[2] Tata bahasa film sendiri terdiri atas unsur unsur seperti pemotongan (cut), pemotretan jarak dekat (close up), pemotretan dua (two shot), pemotretan jarak jauh (long shot), pembesaran gambar (zoom in), pengecilan gambar (zoom out), memudar (fade), pelarutan (dissolve), gerakan lambat (slow motion), gerak yang dipercepat (speeded up) dan efek khusus (special effect). Bahasa tersebut juga menyangkut kode representasi, simbol abstrak dan metafora. Metafora visual sering menyinggung obek-objek dan simbol-simbol dunia nyata, serta mengkonotasikan makna-makna sosial budaya (Sobur, 2006:31).
[3] Film produksi Hollywood dinilai sebagai komoditi yang mendunia. Hollywood juga dikenal sebagai “Dream Factory”.film yang membanjiri pasar global ini mempengaruhi sikap, prilaku dan harapan orang-orang dibelahan dunia. Tidak dapat dipungkiri, industri film yang berpusat di California, Amerika Serikat ini memiliki sejarah panjang, kemajuan yang lebih awal dibanding industri film di negara lain, dilengkapi dengan fluktuasi kapital yang besar, fasilitas yang sangat memadai, akses atas teknologi terkini yang memungkinkan penonton dan penikmat film terkesima oleh beragam efek spesial, aktor, aktris, sutradara, penulis naskah, produser, komposer musik, pengarah fotografi serta berbagai pihak yang terlibat dalam produksi dan pasca produksi yang digembleng pengalaman pembuatan film berskala internasional (Amalia, 2008: 19).
[4] Pada periode ini perlu juga dicatat nama Marck Sennett dengan Keystone Company, yang telah membuat film komedi bisu dengan bintang legendaris Charlie Chaplin (Ardianto,dkk., 2007:144). Apabila film permulaannya merupakan film bisu, maka pada tahun 1927 di Broadway Amerika Serikat muncul film bicara yang pertama meskipun belum sempurna (Effendy, 1993:188). Sejak masa ini film terus berkembang pesat, termasuk dari segi teknologi visual.
[5] Studi film telah membangkitkan sebentang teori dan metode. Film dipelajari dari segi potensinya sebagai “seni”, film dianalisis berdasarkan  perubahan teknologi produksi film, film dikutuk sebagai industri budaya, dan film didiskusikan sebagai situs penting bagi produksi subjektifitas individu dan identitas nasional. (Storey, 2007:67). Film sendiri mempunyai banyak unsur-unsur yang terkonstruksikan menjadi satu kesatuan yang menarik (Luhukay, 2008:126).
[6] Culture And Environment (pertama kali dipublikasikan pada 1933) F.R Leavis dan Denys Thompson (1977) menyalahkan fiksi populer karena menawarkan bentuk-bentuk adiktif berupa ‘kompensasi’ dan ‘distraksi’. bentuk kompensasi ini merupakan kebalikan dari rekreasi itu sendiri, karena ia cenderung tidak memperkuat dan menyegarkan kegemaran akan kehidupan melainkan menambahkan ketidakmampuan seseorang dengan membiasakannya pada pengelakan yang mencerminkan kelemahan dan penolakan terhadap realitas. (Storey, 2007:35). Q.D. Leavis (1978) dalam Fiction And The Reading Public menunjuk pembacaan seperti itu sebagai ‘kecanduan’ pada fiksi di mana pembacaan terhadap fiksi dapat melahirkan maladjustment (ketidakmampuan berhadapan dengan dunia sosial) dalam kehidupann nyata (Storey, 2007:35).
[7] Dalam Chris Robé. Journal of Literacy and Technology, Volume 8, Number 2: 2007 59. Carrasco, Rocío Carrasco. New Heroes on Screen: Prototypes of Masculinity in Contemporary.

Tidak ada komentar: