23 Oktober 2010

KRITIK IDEOLOGI PATRIARKI DALAM FILM THE STEPFORD WIVES (Identitas Perempuan Postmodern, Subjektivitas Dan Mitos)


Penelitian ini berkesimpulan bahwa Film The Stepford Wives yang sebelumnya di klaim sebagai film feminis adalah film yang sangat pahalogosentric yang hanya memberikan penanaman ideologi melalui kesadaran palsu yang dibentuk dalam teks visual film. Film The Stepford Wives, dalam naratif cerita memang menawarkan sebuah cara pandang baru tentang posisi perempuan melalui konten naratifnya. Namun dalam bahasa visual yang ditampilkan selama dalam kompleks Stepford, memperlihatkan bentuk inferior perempuan dalam narasi besar dunia patriarki. awal cerita (melalui kejatuhan tokoh Joanna dalam karir), telah memperlihatkan sebuah kritikan tajam terhadap subjektivitas perempuan yang menulis seksualitas dengan pandangannya sendiri.
 Kritik selanjutnya adalah terhadap budaya postmodernitas, sebuah ruang budaya yang seharusnya dapat membebaskan diri perempuan dari praktek dominasi struktural berdasarkan kelas dan gender. Film ini menganalogikan sebuah perkembangan budaya yang cukup radikal, namun tidak mengikut sertakan perempuan berkembang didalamnya. Perempuan di dunia masa depan tersebut justru dijerat kembali dan dikurung dalam kotak domestik, yang merupakan ide patriaki klasik yang sudah ditemui sejak jaman dahulu. Kompleks Stepford sendiri merupakan wujud dunia baru dengan nilai nilai lama, yang didukung dengan teknologi. Stepford adalah dunia masa depan yang mengadopsi nilai dalam dongeng anak-anak yang secara sistematis ditanamkan didalam pemikiran perempuan. Identitas perempuan karir yang disejajarkan dengan sundal atau penyihir, perempuan didalam rumah yang diibaratkan sebagai putri, dan sosok “Ibu peri” yang berubah menjadi teknologi tubuh, membuat semua hal-hal yang berada dalam dongeng menjadi masuk akal dan ilmiah.
Film ini juga penulis kritik sebgai satu bentuk pelanggengan mitos tradisional melalui simbol moderen yang muncul dalam beberapa visual. Mitos-mitos ini merupakan suatu akar ideologis, yang berfungsi menjerat perempuan dalam praktek dominasi yang lebih dalam, tanpa membuat perempuan merasakan “sakit” atau “kesakitan” dan secara sukarela menyerahkan diri pada kultur budaya dominan yang membuat perempuan tidak akan menemukan konsep “diri” dan ”subjek” yang otonom. hal ini akan terus terjadi bila film yang mengklaim diri “Film feminis” tidak menyertakan “bahasa perempuan” dan cara pandang perempuan dalam pembuatannya.
Memahami perempuan merupakan hal yang cukup rumit, terutama bila berkaitan dengan konstruksi berabad-abad yang telah dibangun tentang otoritas perempuan dan ruang gerak perempuan. Masa depan yang seharusnya menjanjikan kebebasan dan merayakan otoritas masing-masing manusia sebagai “manusia diri”, nyatanya tidak akan bisa dicapai bila struktur simbolik bertahan dan dilanggengkan dalam rumus kapitalis konsumerisme yang menjadikan perempuan sebagai sasaran tembaknya. Perempuan akan selalu berada dalam ruang imajiner, dan akan selalu memakai bahasa laki-laki yang akan membuat perempuan selalu dipandang secara falik sebagai objek.

Tidak ada komentar: